Perintah Allah VS Perintah Manusia. (Interview #Part 1)

akhirnya setelah galau sesaat tadi pagi, saya putuskan untuk pergi memenuhi panggilan wawancara juga. saya pikir ini kesempatan untuk merasakan “bagaimana itu rasanya diwawancara kerja”. heheehe

Jadi persiapan kecil-kecilan dan alakadarnya saya siapkan. Mulai dari searching perusahaan yang saya lamar, visi dan misi perusahaan, tugas dan tanggung jawab bidang pekerjaan yang saya minati sampai kira-kira gajinya berapa.

Awal memasuki ruanganya, saya langsung nyamperin si mbak-mbak yang jaga konter customer service. Saya bilang, saya pelamar dan mau memenuhi panggilan wawancara. Disuruh tunggu sejenak. Dipanggil dan disuruh naik lantai 3.

Awalnya sih takut, hahaha. Bukan takut ga bisa jawab pertanyaan orang HRD nya, tapi lebih kepada penipuan dan sejenisnya. Suudzon ya? T___T. Ini efek seringnya saya mendengar kejahatan yang terjadi didunia maya. Secara saya cari lowongan kerja juga lewat internet. Dan jujur aja, iklan yang dipasang memang agak kurang menarik. hehe

Menjelang sampai dilantai 3, si bapak-bapak yang mengantar saya bertanya saya lulusan mana. Dalam hati saya malah balik tanya, itu surat lamaran plus CV saya ga dibaca apa ya?. lalu saya jawab aja, “kan di surat lamaran sama CV udah saya tulis kalo saya belum lulus pak”. hehe

Sampai dilantai 3 saya disambut manis oleh si mbak-mbak HRD. Awal pembukaan pertanyaanya adalah “kamu udah luluskan?”. Oh Tuhaaaaaannnn…. saya mikir lagi, “itu CV saya diapaiiiinn??? ga dibaca apa ya?.” lalu saya jawab aja seperti yang saya jawab ke bapak tadi.

Pertanyaan kedua adalah, “kamu masih kuliah”. saya jawab ga, saya udah mengajukan tutup teori. Sekarang fokus TA aja. Sama ada jadwal ngajar di lab hari senin dan selasa selama 3 minggu. Saya jelaskan juga bahwa saya awalnya hanya asisten pada 1 lab, namun karena adanya perubahan kurikulum, lab teknik industri UII pun digabung dan jadilah ia lab PSIT.

Lalu si mbak menanyakan apa saja yang diajarkan di lab? pakai software apa aja?. Saya terangkan saja sebagian tentang lab, karena saya pikir si mbak nya juga ga akan paham. Namun dugaan saya meleset. Karena ternyata si mbak nya dulu juga mahasiswi teknik industri AKPRIND. hahaha

Si mbaknya heran, karena software yang saya sebutkan dia ga pernah tau kecuali autocad. Lalu si mbak berkata “saya dulu pakenya ARENA mbak”. Saya cuma angguk2 sambil senyum trus bilang, “itu lab nya DELSIM mbak, sayakan SIMAN”.

Lalu masuk kepertanyaan selanjutnya. Yang menurut saya pertanyaan paling aneh plus palung mematikan bagi saya. Si mbaknya bertanya, “apakah mbak mau kalau kerja ga pake jilbab??”. Saya spontan menggeleng tanpa pikir-pikir lagi.

Mustahil bagi saya buka jilbab demi kerja. Jilbab ga bisa ditukar dengan apapun. Ini identitas saya, Islam.

Mbaknya maklum. Lalu menjelaskan jika kerja disana memang syaratnya ga boleh pake jilbab. Kebijakan dari atasan, begitu dalihnya.

Teman, menurutmu mana yang lebih penting? Perintah Allah SWT yang telah menciptakanmu dengan sempurna ini, yang selalu memberikanmu rezeki, yang memberikanmu kesempatan untuk mencicipi dunia, yang padaNyalah kita dapat bersandar, atau kepada perintah manusia? yang semua rezekinya berasal dari Allah, yang usahanya maju karena Allah dan dia bisa hidup pun diciptakan Allah?.

Maka tak ragu dan tak segan bagi saya untuk menolak pekerjaan itu. Jujur saja, saya cukup tertarik untuk bekerja disana. Khususnya lagi bidang pekerjaan yang saya lamar begitu menantang dan menarik bagi saya.

Marketing. Ya, marketing. Bidang itulah yang saya incar. Dimana kita bisa bertemu banyak orang, melatih kesabaran bila ditolak, menguat-nguatkan niat ketika bertindak, melatih skill mempengaruhi orang lain, menjadi orang yang dipercaya dan masih banyak lagi.

Kata mbaknya, mengenai kendala saya yang masih mengajar dikampus, bisa diakalin. Toh marketing sistemnya “kejar target”. Tapi mengenai harus melepaskan jilbab, itu harga mati. Lantas saya bertanya, “kalau begitu kenapa saya dipanggil mbak?”. Si mbaknya pun menjawab, “itukan pilihan mbak, ada juga orang disini yang kerjanya ga pake jilbab, tapi pas pergi sama pulang kerjanya pake jilbab”.

Jujur aja, miris betul mendengarnya. Sesulit itukah mencari pekerjaan yang baik?. Bagaimana bisa kehidupan akhirat ditukarkan dengan kehidupan dunia.

Saya hanya tersenyum lalu menjawab, “kalo untuk buka jilbab, saya ga deh mbak. Saya tau perjuangan saya untuk pake jilbab”. mbaknya pun mengangguk mahfum sambil bilang, “iya, saya tau pake jilbab itu sulit, saya juga muslim”.

Dan akhirnya sesi wawancara itu ditutup dengan sedikit pujian untuk saya dan kata-kata semoga kamu sukses.

Ah teman, biarlah pekerjaanya tak dapat. Doa dipenghujung percakapan itu semoga diijabah oleh Allah. Aamiin.

Toh saya ingin cari kerja juga Allah tau duitnya mau digunain buat apa. InsyaAllah masih banyak pekerjaan halal lainnya yang ga bertentangan dengan perintah Allah. Selalu percaya itu.๐Ÿ™‚

Gambar

ini dia tempat saya melamar kerjaan.๐Ÿ˜€

2 thoughts on “Perintah Allah VS Perintah Manusia. (Interview #Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s