Be a Mother


GambarSumber : Google Image

Setelah diliat-liat lagi, dicoba-coba untuk paham, pekerjaan sebagai ibu sungguh sulit.

Harus banyak persiapan. Harus banyak pengetahuan. Contoh minimal pengetahuan tentang merawat anak.

Beberapa hari yang lalu saya pergi menjenguk seorang dosen yang baru melahirkan.

Di rumahnya saya melihat banyak buku tentang anak. Mulai dari merawat anak yang masih dalam kandungan sampai anak sudah lahir. Semua detail didalam buku-buku tersebut.

Misalnya, ketika anak tersedak, apa yang harus dilakukan seorang ibu. Ketika anak menangis, ibu harus mengerti apa yang diingini anak. Ketika anak mulai balita dan tumbuh gigi apa yang harus ibu perbuat (karena biasanya pada anak kecil yang baru tumbuh gigi pertamakalinya akan terasa sangat gatal sekali digusinya). Ketika si anak tidak mau makan apa strategi ibu untuk menghadapinya.

Sampai masalah besar misalnya seperti si anak ternyata tidak pernah mau melihat mata lawan bicaranya, asik dengan dunia/mainannya sendiri, hanya bisa memahami/mengulang kata yang itu-itu saja yang kemudian dalam dunia psikologi penyakit ini disebut sebagai Autistic Spectrum Disoder.

Jadi seorang ibu juga harus paham tentang gejala penyakit mulai dari fisik maupun psikologis pada anak. Tidak hanya itu, ibu juga harus tau tindakkan pertama untuk menghadapi gelaja-gejala pernyakit tersebut.

Cobalah tengok lingkungan disekitar kita. Masih banyak juga ternyata ibu-ibu yang belum paham tentang hakikatnya.

Contoh kecilnya saja, ketika saya pulang kampung, masih saja saya sering mendapati orang tua yang menyengaja berbicara pada anak dengan dicedel-cadelkan. Misal, kata “lari” dicadelkan menjadi “lali”, “bisa” menjadi “bica” dan lain sebagainya. Mungkin ketika si anak masih kecil dan berbicara seperti itu akan terlihat imut dan menggemaskan. Tapi tunggulah besar, jika kebiasaan itu berlajut. Apa yang terjadi?.

Mendidik anak juga tidak bisa main-main dan bukan perkara mudah.

Lihat saja disekitar kita, berapa ibu yang kewalahan menghadapi anaknya?. Berapa ibu yang tidak bisa mengendalikan anaknya?.

Sehingga akan wajar terdengar bila ada ibu yang mengeluh anaknya tidak mau nurut, ada yang ngeluh anaknya nakal dan ga sopan, ada yang ngeluh anaknya pemalas dan lain sebagainya.

Bisa jadi, perilaku tidak baik seperti itu karena pengetahuan ibu yang kurang. Barangkali ibu tidak tau apa yang diinginkan anak, ibu tidak paham cara yang tepat untuk mengajari anak, dan ibu belum membiasakan kebiasaan baik pada anak.

Seorang ibu juga harus berpendidikkan. Atau minimal paham tentang sejarah. Agar dapat menceritakan sejarah-sejarah orang hebat zaman nabi, orang-orang hebat/penemu dunia.

Lihatlah saudaraiku, pekerjaan sebagai ibu itu sungguh berat. Banyak yang harus dipersiapkan.

Dan cobalah ingat, sudah seberapajauhkah kita memahami tugas wajib kita?. Sudah seberapabanyakkah persiapan yang kita lakukan untuk mengerjakan tugas wajib tersebut?.

Jadi mengapa kita harus berlomba-lomba dengan lelaki dalam hal mencari harta dan tahta?. Biarlah, berikan itu pada lelaki. Kita cukup sekedarnya saja.

Saya tidak melarang perempuan sekolah yang tinggi. Bahkan jika ingin kuliah sampai S3 pun silahkan jika keadaan memungkinkan. Hanya saja, jangan mengedepankan tugas sunnah dan mengesampingkan tugas wajib kita.

Jadi yuk, belajar sama-sama ^ ^.

Godaan Skirpsi


Gambar

Sumber : Google Image

Salam sodara-sodari.

Kali ini tema kita tetap skirpsi. Godaan skripsi.

Dulu, ketika masih kuliah semester 1-6 saya bingung. Kenapa orang-orang bisa lama banget ngerjain skripsinya. Atau kenapa orang-orang banyak beralasan ketika mengerjakan skripsinya. Misal, “iya e, kemaren vakum dulu ngerjainnya”, “biasa, kemaren menghilang dulu dari dunia skripsi. Ini baru comeback”, “malasnya poll mau ngerjain skripsi”, atau “lagi sibuk usaha, jadi skripsi entaran aja. Udah bisa cari duit juga”.

Dan segudang alasan lainnya.

Sekarang barulah saya mengerti kenapa mereka berkata seperti itu. Sejak dulu, ketika saya bosan dengan kegiatan sehari-hari, biasanya saya akan beralih melakukan hal-hal yang saya sukai. Mulai dari membuat handmade, menonton film sampe mabuk, membaca buku sampai muntah atau sekedar tidur dikamar.

Misalnya beberapa tahun yang lalu, saya tiba-tiba saja sedang giat-giatnya membuat tas dari celana/rok jeans bekas. Belajar menjahit sampai larut malam.

Kakak saya sampai menertawakan saya karena hal itu. “Kenapa kau gin? Mabuk?. Dari pagi sampe tengah malam gini ga brenti-brenti”.

Saya –> Cengengesan. hehe. Bingung mau jawab apa.

Lalu hobi menjahit saya pun memudar dengan seiring berjalannya waktu (barangkali karena dijogja saya belum punya mesin jahit, hhe).

Pernah juga, suatu kali saya tiba-tiba jengah dengan rutinitas. Lalu memutuskan untuk ke toko aksesoris untuk membeli beberapa peralatan dan bahan untuk membuat gelang. Buat dan jual. Yah, lumayan, minimal ga rugi-rugi amat. hehe

Lalu hobi itupun menghilang. Saya kembali hanyut pada rutinitas.

Itulah mengapa kemudian saya sebut ia sebagai “Hobi Musiman”, hhe.

Nah, sama hal nya dengan skripsi ini. Waktu luang yang lumayan banyak (karena ga ada kuliah maupun tugas dari dosen), membuat hobi-hobi lama saya itu bangkit kembali.

Mulai dari awal surat skripsi saya turun, saya sudah mulai getol membuat pernak-pernik dari kawat dan permata, kotak sedekah kain flanel, menonton video debat, bross kain flanel sampai belajar ketoko aksesoris untuk membuat pernak-pernik dari kawat tersebut.

Waktu saya habis. Tercurahkan untuk hobi musiman.

Lalu skripsi?. Yah… begitulah. Saya anak tirikan.

Godaan skripsi ini ga hanya sampai disitu.

Bahkan ketika saya sudah berniat dengan sungguh-sungguh ingin mengerjakan skripsi diperpus, saya malah bertemu teman saya. Dan akhirnya?. Yah, bisa ditebak. Dari 8 jam saya diperpus, 1-2 jam nya malah saya habiskan untuk mengobrol dengan teman saya tersebut. Saya tunjukkan padanya video debat yang sedang saya gandrungi sekarang. hhe

Ketika kemarin juga saya sudah berniat mengerjakan skripsi diperpus pada sore hari, ternyata ada jadwal training di lab.

Nah.. Godaan skripsi ini ternyata banyak sekali macamnya.

Termasuk pagi ini. Padalah tadi malam saya sudah berancang-ancang ingin mengerjakan skripsi setelah solat subuh. Dan ternyata saya malah tergoda untuk menulis.

Ah teman.. Sekali lagi saya ingatkan, godaan skripsi itu banyak sekali macamnya. Belajar menguat-nguatkan niat, bernilai tinggi!.

Jadi inget pesennya mbah Bukhari..

waktuluang

Sumber : Google Image

Hehe. Ngena banget yak..

Jadi,

Contoh Proposal Skripsi

Sumber : Google Image

Monggo dijawab masing-masing, hehe.

Skripsi Vs Passion


Gambar

Sumber : Google Image

Disaat teman-teman lain berlomba menggampai kelulusan, haruskah saya masuk dalam barisan tersebut?.

Rata-rata teman rasanya seperti begitu bersemangat dalam menggapai mimpi, kelulusan. Gelar sarjana. Sarjana Teknik dibelakang nama.

Ibupun sudah bertanya, “kapan ujian pendadaran?”.

SubhanaAllah ibu.. MasyaAllah..

Untuk mengalihkan pembicaraan, lalu saya hanya berkata, “Mohon doakan gina ya bu, semoga bisa tahun ini..”.

Lalu ibupun akan mengucapkan kata-kata yang selalu bisa menentramkan hati, Alhamdulillah. Gina sayang kamu, ibu ku.. Ayah ku.. dan Saudari/saudara ku. :’)

Lantas, haruskah saya memaksakan diri untuk mengerjakan skripsi?.

Rasa-rasanya saya sekarang sedang tertarik untuk mengerjakan yang lain. InsyaAllah bermanfaat juga. Minimal bagi kepuasan rasa ingin tahu saya sendiri.

Lantas, haruskah saya tahan rasa ingin tahu ini dan menggantikannya dengan memelototi Solidworks berjam-jam demi menggambar body tamia yang disuruh dosen pembimbing?.

Ah teman. Hidup ini sungguh banyak definisi nya. Hanya saja, tetap sajalah berpegang pada tujuan yang satu. Menggapai keridhoan Tuhan kita, Allah.

Memang untuk mengerjakan sebuah tugas dan kewajiban itu terkadang perlu memaksakan diri untuk mau menyelesaikan tugas tersebut. Itu penting. Sungguh.

Tapi mengikuti passionmu jauh lebih baik bagimu. Kenapa?. Karena kau akan mencintai apa yang kau kerjakan.

Apakah passion itu?.

Passion itu, kalo dibahasaindonesiakan adalah Semangat, atau gairah. Jadi, bisa diartikan sebagai sesuatu yang dapat membuatmu mendapatkan semangat atau gairah atau kesenangan dalam mengerjakannya. Berkeinginan, berhasrat, bernafsu untuk menggapainya. Kamu bahkan akan rela begadang (walopun sebenarnya kamu tidak suka begadang) demi melakukan apa yang menjadi passion mu. Atau berkorban agar dapat melakukan passionmu tersebut.

Jika sudah begitu, kita akan memiliki semangat hidup. Semangat dan tujuan akan menjadikan hidup ini hebat dan penuh gairah.

Nah. Berarti jelas sudah permasalahan saya saat ini.

Saya belum menjadikan skripsi ini sebagai sebuah kegiatan yang menyenangkan untuk dilakukan. Belum membuat saya bersemangat dalam mengerjakanya. Belum menjadi passion.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana cara menjadikan skripsi ini sebagai passion (sementara) hidupmu, Gin?.

Ya, kenapa saya katakan sementara?. yah, jelas saja sudah. Karena saya tidak berencana untuk mengerjakan skripsi (terus-menerus) sepanjang hidup saya. Kecuali jika saya tiba-tiba berubah pikiran, ingin membuka jasa pembuatan skripsi. hehehe

Sebenarnya caranya mudah saja (dalam pengucapan). Saya paham, saya ngerti, InsyaAllah.

Kalo orang-orang jawa bilang, “witing tresno jalaran soko kulino“. Kurang lebih mungkin bisa diartikan begini, “Biasain aja, nanti lama-lama juga cinta datang sendiri“.

Itulah caranya. Cara yang paling masuk akal, menurut akal sehat saya saat ini. Paksakan!. Nanti cinta itu akan jatuh pada hatimu.

Jadi,, bukalah skripsi dengan pemaksaan diri dan tutuplah skripsi dengan perasaan senang dihati. Mudah-mudahan Allah meridhoi dan akan ditumbukannya rasa cinta pada dunia menulis (penelitian, karya tulis ilmiah) sebagai hadiah. πŸ˜€

Yuk kawan, sama-sama memaksakan diri. Ini kesempatan untuk belajar jatuh cinta! hehe

Selamat memaksakan diriiiii. πŸ˜€

Dad Where We are Going? (Without Mom)


headpicture

Dad Where We are Going? (Without Mom)

Sejak beberapa hari terakhir ini, saya suka sekali menonton reality show dari korea berjudul “Dad Where We are Going?”. Menurut saya acara ini unik sekali. Dimana 5 anak-anak berumur kisaran 9-6 tahun diajak oleh ayahnya berlibur tanpa ibunya. Ayahnya ini ada yang berprofesi sebagai aktor, penyanyi, bahkan atlet.

Tempat liburannyapun bukan ke tempat-tempat mewah, melainkan ke desa-desa. Jadi, setiap kali liburan, mereka akan menginap semalam di desa tersebut. Akan disediakan 5 rumah warga desa setempat, mulai dari yang terbagus sampai yang terjelek. Nah, disini juga main untung-untungan, kadang cabut slot (undian, jadi setiap rumah dikasih nomor) dan ada juga siapa cepat dia dapat untuk menempati rumah terbagus. Kreatif sekali.

Dan kegiatan rutin mereka adalah anak-anak disuruh mengambil makanan dirumah-rumah warga atau membeli dipasar. Mereka diberi peta, rumah mana yang bisa mereka mintai bahan makanan atau dikasih uang dan diantarkan kepasar setempat.

Banyak kekocakkan yang terjadi. Mulai dari polosnya anak-anak saat bermain, ketidakmengertiannya sang ayah terhadap anak, sampai kesulitan si ayah menjawab pertanyaan-pertanyaan dari si anak. Namanya juga anak-anak. hehehe. Kekocakkan juga terjadi mana kala si ayah harus mengurusi semua kebutuhan anaknya. Yang notabene sangat sibuk bahkan ga sempat mengajak anaknya berlibur, apalagi mengurusi keperluan sehari-hari anaknya.

Anak-anak ini sungguh imut dan memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Menggemaskan :D. hehe.

GambarGambar

Anak tertua, Kim Min Gook (9 Tahun)

Walaupun anak yang paling tua umurnya, tapi sekaligus yang paling cengeng dan paling banyak nangis (bahkan disetiap episod doi bisa dikatakan nangis terus. haha). Sesekali dia juga bisa bersikap dewasa terhadap dongsaeng (adik) yang lain dan loyal banget ama bapaknya.

GambarGambar

Anak yang takut ama bapaknya, Song Jun (7 Tahun)

Nah, kalo anak ini beda lagi. Lebih dewasa dan gayanya cool banget ketimbang anak-anak lain. Barangkali faktor dia takut ama bapaknya kali ya.. Emang didikan bapaknya keras. Jadi wajar bila ia kemudian bersikap lebih dewasa dan ga kekanak-kanakan dari yang lain. Gayanya yang cool dan parasnya yang cakep buat saya naksir! hehe

GambarGambar

Perempuan satu-satunya, Song Jia (6 Tahun)

Nah, ini anak perempuan satu-satunya dalam reality show “Dad Where We are Going?” ini. Anaknya juga lucu dan jujuuuurrrr banget. Sayang banget sama bapaknya. Polos dan penyuka hewan serta hatinya mudah tersentuh. Misalnya ni ketika diliburan pertama mereka, dia bertemu segerombolan anak anjing, si Jia ini bilang “Oppa, puppies bilang mereka mau pergi keluar (dari kandang), mereka keliatan menyedihkan”. Dan hampir 30 menit mereka ngeliatin si anak anjing itu gara-gara si Jia ini merasa kasian. hahaha

GambarGambar

Anak yang dewasa, lucu, hobi makan dan naksir Jia, Yoon Hoo (7 Tahun)

Nah, ini anak superduper lucu. Mulai dari sikap dewasanya sampai semangat 45 nya ketika melahap makanan. Kedewasaan Yoon terlihat ketika ia mau tukeran rumah dengan Min Gook karena Min Gook nangis rumah yang ia dapat jelek banget, menjaga Jia waktu ada mobil lewat (gayanya persis kayak seorang lelaki dewasa menjaga wanitanya), nangis sembunyi-sembunyi waktu kangen emmaknya, dll.

Pernah juga sewaktu ayahnya minta maaf ke Yoon karena dulu jarang main ama dia dan Yoon bilang,

Ayah ga perlu minta maaf, itu sudah berlalu. Yang penting sekarang, jadi lupakan semua yang sudah berlalu. Karena kita punya masa depan didepan kita. Kita punya masa lalu, tapi sekarang kita dimasa depan“.

Hahahaha. Untuk anak 7 tahun, kata-kata ini bener-bener dewasa banget. ❀

dan yang terakhir,

GambarGambar

Anak yang cengegesan, dan suka banget bilang “Why” ke ayahnya. Lee Junsu (6 Tahun)

Duo ayah dan anak ini yang paling konyol-konyolan. Ayah dan anak sama-sama kekanak-kanakkannya. Junsu ini yang paling ga pernah memperhatikan peta untuk mengambil bahan makan malam mereka. Dan kalo tidur, ngoroknya gede banget. Saya pikir ini sakit saluran pernafasan. Tapi tetep lucu. hehe

———————————————————————————————————————————————————————–

Pernah suatu kali Min Gook menangis kembali. Kala itu tema liburannya adalah “Winter Camping”. Jadi semua ayah disuruh mempersiapkan sendiri semua kebutuhan kemping musim dingin tersebut.

Semua ayah, kecuali ayah Min Gook telah mempersiapkan keperluan, mulai dari tenda musim dingin sampai apa-apa aja yang kira-kira dibutuhkan.

Ketika semua ayah mendirikan tenda besar khusus musim dingin, ayah Min Gook malah dengan bangganya ngeluarin tenda kecil yang ketika dibentang akan berdiri sendiri tanpa harus didirikan. Bisa mati kedinginan kalo tidur disana disuhu minus 14 derajat.

Ketika ia sadar ia salah bawa tenda, dan Min Gook mulai menangis karena tenda mereka lebih kecil dari yang lain, ayah-ayah yang lain menghampiri ayah Min Gook.

“Kok bisa-bisanya kamu bawa tenda kayak gitu kesini?”, tanya ayah Song Jun.

Masalahnya adalah, sekarang istriku lagi ga dirumah. Karena dia tengah dalam masa pemulihan setelah melahirkan, ga ada yang ngurusin kami. Aku hampir ga punya waktu untuk mempersiapkan ini“. jelas ayah Min Gook panjang lebar.

Saya jadi menangkap semacam pesan, betapa pentingnya peranan ibu dalam rumah tangga. Ibu itu emang cenderung orangnya teliti dan telaten. Cekatan dalam mengurusi semua kebutuhan. Ibu ahlinya dalam mempersiapkan segala sesuatu dalam segala urusan rumah dan kebutuhan hidup.

Ibu dalah manager rumah tangga πŸ˜€

Ayah-ayah lainnya bisa mempersiapkan liburan musim dingin ini dengan baik tentu tak lepas dari bantuan istrinya. Sedangkan ayah Min Gook hanya mempersiapkan seorang diri. Jadi wajar bila kemudian ayah Min Gook lah yang paling sedikit persiapannya. ^ ^

Yuk teman-teman, belajar mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap kejadian :D.

Belajar bisa dari mana saja dan dari siapa saja. ^ ^

Salam m/

Makna Sekolah dan Ibu Sebagai Pendidik


Sekolah.

Sekolah itu kalau menurut saya luas sekali maknanya. Ketika lingkungan hidup kita memberikan pelajaran berharga, misalnya “ketika kamu bertindak menyebalkan, orang-orang akan menjauhimu”, atau “kalo kamu suka bohong, nanti teman-teman mu ga percaya kamu lagi”, nah, itu menurut saya juga sekolah. Sekolah moral. hehe

Tapi terkadang kita sering menyempit-nyempitkan makna tersebut.

Sekolah itu sendiri identik dengan seragam, topi, dasi, dan tidak lupa seterfikat kelulusan. Dimana proses sekolah selama 6 tahun di SD hanya dinilai 3-5 hari ujian. Yang setiap kali ujiannya hanya menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam. Miris.

Pemerintah Indonesia sendiri baru-baru ini sedang melirik-lirik UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional wajib belajar 9 tahun yang rencananya akan diubah menjadi wajib belajar 12 tahun. Artinya, nantinya, berdasarkan UU ini, semua anak di Indonesia wajib mengenyam pendidikan minimal sampai tingkat SMA.

Hal ini dipandang perlu oleh pemerintah untuk menaikkan mutu/SDM Indonesia agar sesuai dengan kebutuhan zamanyang semakin modern ini.

Saya rasa itu benar dan penting untuk dilakukan. :’)

Hanya saja, saya merasa agak sedikit kurang sreg dengan pendidikan yang selama ini diajarkan oleh sekolah/kampus saya.

Beberapa guru/dosen saya biasanya mengajarkan saya bagaimana caranya menjadi pesuruh dan pekerja yang baik diperusahaan atau instansi pemerintahan. Terkadang setiap kali sedang belajar dikelas, ada beberapa kalimat sisipan seperti, “Nanti, di dunia kerja kalian akan butuh ini”, atau “Biasanya perusahaan-perusahaan akan mencari pegawai yang seperti ini”, dan blaa.. blaa.. blaa..

Jarang sekali kami mendapatkan motivasi untuk berdiri dikaki sendiri. Atau sekedar kata penyemangat seperti, “Nanti kalian boleh bekerja jadi orang kantoran, kerja diperusahaan gede. Tapi jangan lama-lama ya.. Maksimal 3 tahun aja. Habis itu, cobalah untuk berdiri dikaki sendiri. Ikutilah caranya baginda Rasulullah dalam bekerja..“.

Ternyata, awalnya orang yang amat dimuliakan oleh Allah SWT pun pernah menjadi pekerja. Beliau bekerja untuk Ibundha Khadijah yang kemudian menjadi istrinya. Teman-teman juga pasti udah taukan kalo Siti khadijah melirik Rasulullah awalnya karena kejujuran dan keuletanya dalam bekerja. Nah, kita wajib contoh yang itu tu ketika bekerja. ^ ^. (Bukan karena saking mau kayak nabinya itu jadi malah ngegaet istri si bigbos ya. hhe)

Contoh lainnya, saya juga belum diajarkan bagaimana caranya menjadi perempuan yang baik untuk suami nantinya. Atau menjadi ibu yang baik untuk anak-anak. Yang dapat merawat dan mendidik anak dengan baik (menurut skala islam). dll.

Ternyata masih banyak sekali yang belum saya dapatkan dari pendidikan sekolah formal. Sangat banyak.

Barangkali itulah sebab mengapa islam sangat memuliakan pekerjaan sebagai seorang ibu. Ibu adalah guru pertama untuk anak-anaknya. Ibu seharunya menjadi madrasah sekaligus pendakwah bagi anak-anaknya.

Cobalah tengok negara modern nan pesat dalam perkembangan teknologinya. Jepang. Ternyata, negara tersebut mewajibkan wanita yang mempunyai anak untuk berhenti bekerja. Ia baru boleh bekerja kembali ketika si anak sudah dewasa. Jadi, perempuan jepang sekolah tinggi-tinggi sampai S2 pun sebagai bekal mendidik anak-anaknya kelak. SubhanaAllah. Bagaimana mungkin negara yang minoritas islam tersebut malah mengamalkan ajaran islam?. Dan lihatlah hasilnya sekarang. Orang-orang jepang terkenal akan kejujuran dan keuletannya dalam bekerja. :’)

Teman kita bandel? Tahan sejenak. Cobalah tengok bagaimana didikan orang tuanya, terutama si ibu.

Sebagai contoh. Di lingkungan saya ada yang suka pake rok mini dan baju you can see, setelah saya amat-amati, ternyata sewaktu ia kecil ibunya suka memakaikanya baju yang seperti itu. Ya wajar kalo kemudian ketika dewasa ia demen pake baju begituan. Memang sih ketika kecil perempuan belum memiliki aurat dan anak kecil yang pake baju mini-mini terkesan imut dan menggemaskan. Lah kalo sudah dewasa??.

Di lingkungan saya juga ada yang suka pake baju serba mini-mini dan kencan dengan banyak lelaki. Dan setelah mengamati cerita-ceritanya, ternyata si ibunya dulu juga seperti itu. Teman-teman pasti pernah dengar kalo anak-anak itu seorang peniru yang baik kan? :D. Nah, terjawablah sudah mengapa ia kemudian seperti itu. hehe

Kalo menurut saya pribadi, tanggung jawab seorang wanita untuk pertama kalinya adalah ketika ia menjadi seorang ibu. Sebab, dari kita (baca : perempuan) lahir sampai kemudian menikah, kita tidak bertanggungjawab untuk hidup siapapun. Beda dengan laki-laki. Ketika laki-laki telah menjadi suami, maka ia bertanggungjawab pada istri. Ketika menjadi ayah, maka bertanggungjawab pada istri dan anak. Ketika masih muda pun biasanya laki-laki sudah diajarkan untuk bertanggungjawab pada keluarga, minimal menjaga ibu dan adik/saudaranya. πŸ˜€

Tapi, sayangnya lagi ni ya. Perempuan zaman sekarang (termasuk saya), demen nya lomba-lombaan sama lelaki. Alasannya sih, “Masak cowo aja yang boleh kerja dan berkarier. Kita juga mau jadi wanita karier. Biar ga disemena-menain cowo“. Lalu timbullah kata emansipasi wanita. hehe

Akhirnya, dengan alasan emansipasi wanita itulah kita bisa bekerja dengan bebas. Nanti sedikit-sedikit emansipasi, sedikit-sedikit ngomongnya diskriminasi. Diskriminasi kok sedikit-sedikit.

Misalnya ada seorang wanita yang bisa nyetir mobil truck, tapi ga dibolehin jadi sopir truck, nah nanti para aktivis emansipasi wanita pada demo deh tuh… Bilang kalo wanita juga bisa kerja jadi sopir. Jujur aja, miris betul kalo ini sampai terjadi.

Memang sih, barangkali itu karena kebutuhan keluarga. Karena gaji suami ga mencukupi.

Tapi, menurut saya lagi ni ya, seandainya dulu si ibu lelaki sudah menerapkan pendidikan dini tentang hakikat seorang wanita dan pekerjaannya ke anak laki-lakinya. Maka ga akan deh ada kejadian begini. Suaminya seharunya ga mengizinkan istrinya bekerja sekasar itu. Misalnya dengan ngasih pengertian ke istrinya,

“Dek, kita syukuri aja dulu apa yang udah Allah kasih ke kita ya. Adek didik aja anak-anak kita dirumah. Ajarin ngaji, menghafal dan memahami Al-Qur’an, tentang makna hidup, tentang kebersyukuran, kejujuran, keuletan. Masalah ekonomi keluarga, biar mas yang urus”.

*Uhuk*. Kalo dibicarain dengan lemah lembut plus senyuman yang manis lagi meneduhkan, istrinya juga “klepek-klepek” deh jadinya. hehe

Istrinya juga kalo sedari kecil sudah dikasih contoh yang baik dari ibunya (misal cara ibu merawat/mendidiknya, tentang bagaimana sebaiknya istri mengikuti kata suami selama itu baik, tentang bagaimana kemudian seorang istri sebaiknya menjaga harta dan rumah serta martabat suami) juga dengan sendirinya akan mudah memahami maksud perkataan suaminya tersebut.

Semua yang saya jelaskan diatas seperti lingkaran. Kita hanya berputar-putar disana. Pada pendidikan seorang ibu. Bukan pendidikan sekolah. :’). Pendidikan sekolah barangkali hanya berguna untuk dunia kerja. Tapi pendidikan yang diberikan oleh seorang ibu tidak hanya berguna untuk dunia kerja melainkan juga untuk kehidupan yang lebih luas seperti kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat. ^ ^

Jadi, alangkah baiknya, kita -si perempuan-perempuan- ini, berlomba-lomba menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kelak, bukan berlomba-lomba menjadi wanita karier yang pergi pagi pulang malam. πŸ˜€

Yuk deh, kita sama-sama memperbaiki mindset kita. :’). Sadari siapa kita, lalu temukan jalan menuju keridhoan-Nya. ^ ^

Tabungan Masa Depan #HandMade


SAM_0351

Kotak Amal kain flanel

Malam tadi saya kembali iseng-iseng buat kreasi dari kain flanel. hehe

Hal ihkwalnya adalah ada teman yang masih malu bersedekah terang-terangan. Ga apa-apa. Islam adalah agama yang prefentif. Islam melindungi dan mencegah kita agar ga berbuat dosa. Ketika kita merasa masih belum sanggup untuk tidak bersikap berbangga hati dan riya terhadap sedikit saja kebaikkan yang akan atau telah kita lakukan, maka lebih baik disembunyikan.

Namun begitu, terhadap amalan sedekah yang ditunjukkan pun tidak mengapa (Qs. Al-Baqarah (2) : 274).

Teman-teman pasti udah taukan kalo sedekah itu ternyata dapat melapangkan rezeki loh.. (Qs. Saba (34) : 39), juga sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah (Qs. At-Taubah (9) : 99), dan bahkan Rasulullah SAW pernah bilang kalo sedekah itu pengobat sakit. πŸ˜€ Woah… hebat kan? kurang apa coba kehebatan sedekah ini?.

Ga hanya itu loh teman..

Ketika kita meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik (sedekah), maka Allah akan melipatgandakan pembayarannya kepada kita dengan lipat ganda yang banyak (Qs. Al-Baqarah (2) : 245). Kurang apa coba? Logikanya ni ya, ruh dan jasad kita ini aja udah kepunyaan Allah.. Apalagi hanya harta dan rezeki yang diberi-Nya pada kita..

Tapi cobalah lihat.. Allah memakai kata-kata “Pinjaman”, untuk sesuatu yang memang milik-Nya. SubhanaAllah.. Maha Suci Allah.. Tuhan semesta alam.. Maha Lembut dan rendah hatinya Allah pada kita..

Jadi, rasanya rugi betul kalo kita hanya menyisihkan uang paling kecil didompet untuk sedekah. Apalagi kalo cuma harta sisa. Rasanya malu ga si? hehe. :’)

Em.. memang sih, sebenarnya setiap kebaikan itu adalah sedekah (HR. Bukhari). Jadi, senyum kepada teman adalah sedekah, membantu orang lain juga sedekah, berdzikir, bersolawat atas nabi SAW, bahkan sekedar menyingkirkan kerikil dari jalananpun juga termasuk sedekah. Betapa baiknya Allah..

Namun alangkah baiknya sedekah-sedekah kita dibarengi dengan sedekah hartaΒ dan berusahalah mensedekahkan harta yang kita cintai agar mendapatkan kesempurnaan (Qs. Ali Imron (3) : 92). Hitung-hitung juga untk mensucikan harta kita. Kalo katanya ust. Maulana ni ya, “Sedekah itu artinya kotoran yang kita keluarkan dari harta kita. Nah, coba deh bayangkan kalo kotoran-kotoran dalam perut kita ga pernah kita keluarkan. Apakah yang akan terjadi?. Kita pasti ga nyaman dan akan timbul berbagai penyakit”. Nah, begitu jugalah dengan harta. ^ ^

Sehingga, ketika kita mulai merasa terlalu banyak bersedekah yang padahal hanya 100rb, sedang kalau ke mall duit segitu terasa kurang, maka hati-hatilah. Barangkali itu penyakit hati. hehe

Tenang aja, harta yang kita sedekahkan ga akan berkurang kok. Justru bertambah sampai 700x lipat, bahkan lebih!. Tergantung maunya Allah. πŸ˜€ (Qs. Al-Baqarah (2) : 261). Memang sih kalo secara fisik, setelah sedekah uang kita akan berkurang. Tapi kalo menurut perhitungan-Nya itu ga akan berkurang. Lihatlah setelah bersedekah, akan banyak keberkahan dalam hidup.

Lantas gimana kalo ternyata udah bersedekah jor-jor-an tapi rezeki tetap seret mampet?.

Ah teman.. Percayalah, Allah itu Maha Pemalu.. Allah akan malu kalo kita udah berusaha bersungguh-sungguh untuk bersedekah demi mengharapkan Ridho-Nya dan kelapangan rezeki dari-Nya tapi Dia belum memberikan apa yang kita minta. Suatu saat Allah pasti kasih apa yang terbaik untuk kita dengan cara-Nya sendiri yang terkadang memang sulit untuk kita mengerti. Dia akan memberikannya diwaktu yang tepat.

Allah itu Maha Adil dan ga akan mungkin bohong ama kita, :’). Barangkali setelah sedekah itu semua dosa-dosa kita dihapus, atau dipanjangkan umur kita dan keluarga, diselamatkan dari marabahaya, disembuhkan dari penyakit, dan masih banyak lagi yang barangkali tidak kita sadari. Jadi balasannya mungkin memang tidak melulu dengan harta. :’)

Jangan lupa, setelah sedekah tetaplah berdoa dan berlakulah sabar. InsyaAllah Ridho-Nya datang ke kita. πŸ˜€ Aamiin

Nah, kembali ke awal pembicaraan. πŸ˜€ Jadi, begitulah ide kenapa saya membuat kotak amal dari kain flanel ini. Karena teman saya. Hehe. Beberapa waktu belakangan ini saya memang ingin sekali pengen punya amal yang dilakuin bareng-bareng. Salah satunya dengan sedekah ini :D. Mulai sedekah jamaah kayaknya seru ya.. dimana kita bisa saling menyemangati dan mengingatkan dalam hal kebaikkan, InsyaAllah.

Barang siapa memberi contoh yang baik dalam islam, baginya pahala dan pahala orang yang beramal setelahnya, tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun“.

(HR. Imam Muslim)

Jadi yuk, Sedekah jamaah. Kita buat jaringan pahala yang panjang. Mudah-mudahan Allah meridhoi, aamiin. ^ ^

Dan TARAAAAAAAAA….. Inilah kotak amalnya πŸ˜€

SAM_0349

Diatasnya saya beri nama kostan, yaitu Al-Barqah πŸ˜€

Jadi, setiap sisi kotak saya beri beberapa kata, seperti :

SAM_0342

Sedekah, untuk menunjukkan bahwa ini kotak amal

SAM_0343

Lalu juga saya sisipkan surat Al-Baqarah : 261 disisi lainnya, sebagai penyemangat ketika bersedekah, hehe

SAM_0345

Harapan saya sedekah ini bisa kita lakukan rutin ^ ^

SAM_0346

Dan terakhir, tidak lupa saya katakan bahwa sedekah itu menyenangkan, FUN! πŸ˜€

Semoga kita semua bisa istiqomah pada kebaikkan-kebaikkan ya teman-teman.. πŸ˜€

Salam m/

Teruslah berkreasi. ^ ^

Setengah Pakaian. (Ssstt… Waspadalah!)


Malam tadi, saya dan beberapa teman sibuk berbincang tentang psikologi manusia. Hal ini dimulai gara-gara adanya seorang lelaki aneh yang berkeliaran didekat kostan kami. Anggi, sebagai anak psikologi tentu lebih tau dari pada kami kenapa laki-laki tersebut begitu aneh dan menakutkan.

Kenapa kami sebut ia aneh dan menakutkan?. Ah teman.. jujur saja, saya baru tau ada penyakit kelainan sex ini ketika kuliah. hehehe. Betapa dangkalnya pengetahuan saya.

Laki-laki itu berciri-ciri memakai jas hujan, sementara hari tidak hujan (atau kadang hanya rintik-rintik kecil), memakai helm dengan full face daaaaaaaaannnnn GA PAKE CELANA! alias setengah berpakain!!!!

Teman saya, Fissi, sungguh nahas nasibnya. Sudah 2 kali ia melihat laki-laki dengan kelainan seksual begitu didekat kostan kami. Anggi pun pernah melihatnya. Dan wiwit? Barangkali juga sudah. Dan hanya saya yang belum berkesempatan liat. hhe (ga berharap diliatin dan semoga ga pernah diliatin, aamiin).

Fissi ini lucu sekali ceritanya. Ketika itu memang hari sedang hujan-hujannya. Jika meminjam kalimatnya Syahrini, hari sedang hujan badai cetar membahana. Hari itu, cuaca baru mau diajak kompromi malam-malam, barangkali setelah adzan isya. Fissi yang memang biasa makan teratur dan hidup sehat ketika itu hendak membeli makan diluar.

Pergilah ia ke garasi untuk mengeluarkan motor. Sesampainya diluar, ia bertemu dengan seorang pria yang mengintip-intip kekostan kami lewat pintu pagar. Tampaknya tidak menemukan apa yang ia inginkan, si pria itupun berniat hendak meninggalkan kostan kami. Fissi yang kala itu menyangka ia adalah teman dari salah satu teman kostan kami pun hendak bertanya, “cari siapa mas?”.

Namun ketika memandang pria ini Fissi merasa ada yang aneh. Tercenung sejenak, menatap. Apa yang aneh dan apa yang kurang dari pria tersebut, kemudian berfikir (maklum, karena memang Fissi anaknya lucu, imut, kecil, menggemaskan dan lugu, jadi memang butuh mikir lama, haha *ampun Fis :P*). Ada yang aneh dengan celananya, pahanya keliatan semua. Fissi yang kala itu sedang sibuk mendorong-dorong motor, terdiam lalu cepat-cepat meninggalkan motor.

Dan “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…………..” Pekiknya dalam kostan. Kami yang kala itu memang sedang menonton ramai-ramai diruang TV sontak terkejut.

“Kenapa Fis??”, Tanya kami hampir berbarengan.

“Ada orang ga pake celanaaaaa”.

“Maksutnya?”.

“Ada orang ga pake celana dan ngeliatin itunya ke akuuuuu”. Jawab Fissi dengan wajah panik, kaget dan agak jijik.

Awalnya kami bingung dan agak panik lalu sontak tertawa sambil bilang, “Cieee cieee Fissiiiiii… udah gede ya sekaraaaangggg”. Hehehe.

Waktu itu saya belum tau kalo ternyata hal semacam itu adalah kelainan dalam memuaskan sex. Sampai tadi malam Anggi menjelaskannya pada saya dan teman-teman. hhe

Ternyata, si Anggi ini sudah paham betul ciri-ciri orang yang sekiranya akan memperlihatkan kelaminnya pada lawan jenis. Biasanya yang memperlihatkan kelaminnya ini adalah pria. Dari Anggi juga kemudian saya tau bahwa disekitaran kostan saya ini memang ada orang yang seperti itu. *Wajib siaga mulai sekarang*.

Anggi bilang, pria-pria kelainan seperti itu memang biasanya berkeliaran diseputaran kostan wanita. Mencari mangsa. Akan kepada siapakah ia tunjukkan kelaminnya. Anggi bilang, kita-kita ga perlu takut dengan orang seperti itu, karena ia InsyaAllah ga bakalan ngapa-ngapain kita. Mereka hanya akan puas sekedar dengan menunjukkan kelaminnya. Dan apabila kita berteriak karena takut atau terkejut, maka si pria akan senang dan merasa dirinya hebat. Itulah kepuasan sex nya.

Ternyata, tahukah teman?. Di dalam dunia kesehatan jiwa atau psikologi, jenis penyakit ini dikenal dengan nama Parafilia Eksibisionisme. Jadi seseorang akan merasa puas (seksualnya) ketika seseorang itu berhasil memperlihatkan kelaminnya kepada orang lain (biasanya lawan jenis). Tapi tidak perlu khawatir, karena orang-orang tersebut hanya sebatas memperlihatkan tanpa menyentuh ataupun meminta kontak fisik lainnya. Ketika kita merasa kaget atau takut kemudian berteriak, maka itulah kepuasan seksual baginya. Ia akan merasa bangga dengan apa yang ia lakukan. Biasanya (tapi tidak selalu) orang-orang yang sudah puas memperlihatkan kelaminnya tersebut akan melanjutkan dengan masturbasi.

Nah.. Kenapa ada kelainan yang menyimpang seperti ini?. Ternyata, usut punya maksud, sebabnya ada 2, yaitu internal dan eksternal. Adapun internal bisa berupa genetik bawaan, sikap yang mudah terpengaruh, dll. Bisa juga gara-gara si pelaku ga bisa menyalurkan hasrat seksualnya sehingga memuaskannya dengan perilaku menyimpang.

Masih kata Anggi. Untuk menghentikan orang Eksibisionisme ini, ada cara khusus yaitu dengan mengecilkan hatinya. Harus dibuat down dan ga PD, sehingga ia merasa kapok untuk memperlihatkan kelaminnya dikemudian hari.

Misalnya, ketika Anggi dan temannya (sesama anak psikologi) bertemu dengan orang seperti ini, mereka berdua sontak menyorakinya dengan kata-kata, “Keciiiiilll… Keciiiiillll… Caaaciiiinggg… caaaciiinnggg…”, sambil ambil langkah seribu. Kabuurrrr. hahaha.

Ga kebayang itu gimana perasaan orang yang diledekkin kayak anak kecil. wkwk

So, buat kita-kita, perempuan-perempuan kostan, ga perlu takut dan cemas lagi ya dengan orang yang berperilaku belum normal seperti ini. Lakukanlah pencegahan dengan menghindari dan usahakan jangan sampai terlihat kaget, takut, apalagi berteriak. Karena itu akan membuat mereka semakin bahagia dan mengulangi tindakkannya. Tapi cobalah untuk membuat perasaan si pelaku down sehingga timbul perasaan trauma. hehe

Salam pagi sobat, terus semangat ya!

See u. :’)

Hidup Bersama Semut


Akhir-akhir ini saya dipusingkan dengan berkoloni-koloninya semut dikamar saya. Padahal tak ada gula, remah makanan atau apapun yang biasanya dapat mengundang si semut berserakkan di kamar. Tapi tetap saja mereka menggerayangi dinding, lantai dan jendela kamar saya.

Pusiiiinggg… Pusiiiiiinggg…

Mau dibunuh rasanya ga enak. Mau dibiarkan juga ga nyaman. Semut biar kecil begitu juga punya hak hidup kan ya?? Ga bisa sembarang bunuh hewan, walau itu semut.

Takutnya itu, karena mereka juga berjalan di lantai yang sama dengan saya, dan badan saya sudah pasti lebih besar dari si semut, maka otomatis peluang saya menginjak si semut menjadi lebih besar. Nabi Sulaiman as aja yang punya kerajaan terbesar sepanjang zaman, yang udah dijamin masuk surga dan termasuk salah seorang yang dimuliakan sang pemilik dunia, enggan dan berusaha untuk tidak menginjak semut. Masak iya, kita yang ga ada apa-apanya ini berani-beraninya main injak mahluk Allah?. :’)

Kalo udah kesel ama ni semut-semut juga biasanya saya bunuh. Sadis yak.. Tapi yah begitulah.. T___T. Beberapa teman saya sih nyaranin beli kapur barus untuk ngusir semut-semutnya. Tapi saya kelupaan terus mau belinya. hehe. ^ ^ v

Sebenarnya membunuh binatang yang mengganggu itu dibolehkan dalam islam. Tapi juga rasanya sayang ngebunuh ini semut-semut. Sebab seluruh isi alam semesta ini, dari hewan sampai tumbuhan, ternyata bertasbih untuk Allah.

β€œLangit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”

(Qs. Al-Isra [17]:44)

Jadi, saya putuskan, biarlah. Saya hidup bersama semut. hehehe