Tentang Cinta Sejati

Berbicara tentang cinta, sebenarnya memiliki definisi yang luas. Tergantung siapa yang menjalani cinta tersebut.

Ketika cinta antara seorang lelaki dan seorang wanita, maka itu namanya cinta pasangan hidup.

Ketika elemen cinta tersebut terdapat orang tua dan saudara maka namanya berubah menjadi cinta keluarga.

Ketika kita kemudian mengikuti ajaran dan sunnah Muhammad SAW maka sebutannya menjadi cinta Rasul.

Dan ketika semua cinta tersebut bermuara pada Allah, maka InsyaAllah selamatlah hidupnya.

Memang cinta itu banyak macamnya. Ada juga cinta berdasarkan nafsu dan petunjuk setan. misalnya cinta dunia, cinta harta, cinta zina dll. Naudzubillahi mindzalik.. semoga kita bukan termasuk golongan yang ini ya teman. Aamiin.

Pagi ini, saya melihat sebuah video yang ditaq dalam FB saya. Disana dikisahkan tentang detik-detik wafatnya Rasulullah, manusia paling mulia kecintaan Allah.

Ada tentang kisah cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kisah hidup Rasul-Nya.

Pagi itu, walau langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.

Pagi itu… Dengan suara terbatas Rasulullah memberikan khutbah,

“Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertaqwalah pada-Nya. ku wariskan 2 perkara pada kalian, Al-Qur’an dan sunnah ku. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk surga bersama-sama aku”.

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu.

Abu bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca…

Umar dadanya naik turun karena menahan nafas dan tangisnya…

Usman menghela nafas panjang…

Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam..

Isyarat itu telah datang, waktunya sudah tiba..

“Rasulullah akan meninggalkan kita semua”. Keluh hati sahabat kala itu..

Manusia tercinta itu hampir selesai melaksanakan tugasnya di dunia.

Tanda-tanda itu semakin kuat..

Ali dan Fadhal cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar.

Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir disana pasti akan menahan detik-detik berlalu…

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup.

Sedang didalamnya Rasulullah masih terbaring lemah dengan keningnya berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang berseru mengucapkan salam,

“Bolehkah saya masuk?”, tanyanya.

Tapi Fathimah tidak mengizinkannya masuk, “Maaflah, ayahku sedang demam”, kata Fathimah yang memberbalikkan badan dan menutup daun pintu

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fathimah, “Siapakah itu wahai anakku?”.

“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya”, tutur Fathimah lembut.

Lalu Rasulullah menatap putrinya dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikat maut, kata Rasulullah”.

Fathimahpun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa malaikat jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggil jibril yang sebelumnya sudah bersiap untuk menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?”, tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu”, kata jibril.

Tapi ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?”, tanya jibril lagi.

“Kabarkan kepadaku, bagaimana nasib umatku kelak?”.

“Jangan khawatir wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman padaku : ‘Ku haramkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya'”, kata jibril

Datik-detik semakin dekat, saatnya izrail melakukan tugas

Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini”, perlahan Rasulullah mengaduh.

Fathimah terpejam, Ali disampingnya menunduk semakin dalam dan jibril memalingkan muka.

“Jijikkah kau melihatku, hingga kau memalingkan wajahmu jibril?”, tanya Rasulullah kepada malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapa yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajal”, kata jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.

“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada ummatku”.

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seperti hendak membisikkan sesuatu,

Ali segera mendekatkan telinganya, “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku. Periharalah salat dan peliharalah orang-orang lemah diantaramu”.

Diluar pintu tangis mulai bersahutan, sahabat saling berpelukkan.

Fathimah menutupkan tangan diwajahnya dan Ali mendekatkan telinga ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii… Ummatii… Ummatii..”

Dan berakhirlah hidup di dunia manusia paling mulia dan pemberi sinar itu..

Ah teman.. lihatlah.. betapa beliau mencintai kita, umatnya. Sampai ketika sakaratul maut, malaikatpun tak sanggup untuk melihatnya. Betapa menyakitkan kematian itu. Logika-logikanya, orang yang paling dicintai Allah saja sampai mengaduh kesakitan. Apalagi kita-kita ini ya.. Manusia akhir zaman.. Barangkali akan lebih sakit..

Maka, bila berbicara apa itu cinta, maka sebaik-baik contoh adalah cinta Rasul kita pada umatnya. :’) Allahhumma Sholli ‘ala Sayyidinna Muhammad Wa ‘ala ali Sayyidinna Muhammad..

Sedih betul liat berita infotaimen hari ini, ada yang sedang bertikai dan membawa-bawa agama Allah.. Semoga mereka diberikan petunjuk oleh-Nya dan diampuni dosanya..aamiin

Ingatlah muara cinta kita akan kemana.. Maka InsyaAllah akan selamatlah hidup ini. ^ ^

Gambar

Sumber Google Image

Inspired by :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s