Setengah Pakaian. (Ssstt… Waspadalah!)

Malam tadi, saya dan beberapa teman sibuk berbincang tentang psikologi manusia. Hal ini dimulai gara-gara adanya seorang lelaki aneh yang berkeliaran didekat kostan kami. Anggi, sebagai anak psikologi tentu lebih tau dari pada kami kenapa laki-laki tersebut begitu aneh dan menakutkan.

Kenapa kami sebut ia aneh dan menakutkan?. Ah teman.. jujur saja, saya baru tau ada penyakit kelainan sex ini ketika kuliah. hehehe. Betapa dangkalnya pengetahuan saya.

Laki-laki itu berciri-ciri memakai jas hujan, sementara hari tidak hujan (atau kadang hanya rintik-rintik kecil), memakai helm dengan full face daaaaaaaaannnnn GA PAKE CELANA! alias setengah berpakain!!!!

Teman saya, Fissi, sungguh nahas nasibnya. Sudah 2 kali ia melihat laki-laki dengan kelainan seksual begitu didekat kostan kami. Anggi pun pernah melihatnya. Dan wiwit? Barangkali juga sudah. Dan hanya saya yang belum berkesempatan liat. hhe (ga berharap diliatin dan semoga ga pernah diliatin, aamiin).

Fissi ini lucu sekali ceritanya. Ketika itu memang hari sedang hujan-hujannya. Jika meminjam kalimatnya Syahrini, hari sedang hujan badai cetar membahana. Hari itu, cuaca baru mau diajak kompromi malam-malam, barangkali setelah adzan isya. Fissi yang memang biasa makan teratur dan hidup sehat ketika itu hendak membeli makan diluar.

Pergilah ia ke garasi untuk mengeluarkan motor. Sesampainya diluar, ia bertemu dengan seorang pria yang mengintip-intip kekostan kami lewat pintu pagar. Tampaknya tidak menemukan apa yang ia inginkan, si pria itupun berniat hendak meninggalkan kostan kami. Fissi yang kala itu menyangka ia adalah teman dari salah satu teman kostan kami pun hendak bertanya, “cari siapa mas?”.

Namun ketika memandang pria ini Fissi merasa ada yang aneh. Tercenung sejenak, menatap. Apa yang aneh dan apa yang kurang dari pria tersebut, kemudian berfikir (maklum, karena memang Fissi anaknya lucu, imut, kecil, menggemaskan dan lugu, jadi memang butuh mikir lama, haha *ampun Fis :P*). Ada yang aneh dengan celananya, pahanya keliatan semua. Fissi yang kala itu sedang sibuk mendorong-dorong motor, terdiam lalu cepat-cepat meninggalkan motor.

Dan “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…………..” Pekiknya dalam kostan. Kami yang kala itu memang sedang menonton ramai-ramai diruang TV sontak terkejut.

“Kenapa Fis??”, Tanya kami hampir berbarengan.

“Ada orang ga pake celanaaaaa”.

“Maksutnya?”.

“Ada orang ga pake celana dan ngeliatin itunya ke akuuuuu”. Jawab Fissi dengan wajah panik, kaget dan agak jijik.

Awalnya kami bingung dan agak panik lalu sontak tertawa sambil bilang, “Cieee cieee Fissiiiiii… udah gede ya sekaraaaangggg”. Hehehe.

Waktu itu saya belum tau kalo ternyata hal semacam itu adalah kelainan dalam memuaskan sex. Sampai tadi malam Anggi menjelaskannya pada saya dan teman-teman. hhe

Ternyata, si Anggi ini sudah paham betul ciri-ciri orang yang sekiranya akan memperlihatkan kelaminnya pada lawan jenis. Biasanya yang memperlihatkan kelaminnya ini adalah pria. Dari Anggi juga kemudian saya tau bahwa disekitaran kostan saya ini memang ada orang yang seperti itu. *Wajib siaga mulai sekarang*.

Anggi bilang, pria-pria kelainan seperti itu memang biasanya berkeliaran diseputaran kostan wanita. Mencari mangsa. Akan kepada siapakah ia tunjukkan kelaminnya. Anggi bilang, kita-kita ga perlu takut dengan orang seperti itu, karena ia InsyaAllah ga bakalan ngapa-ngapain kita. Mereka hanya akan puas sekedar dengan menunjukkan kelaminnya. Dan apabila kita berteriak karena takut atau terkejut, maka si pria akan senang dan merasa dirinya hebat. Itulah kepuasan sex nya.

Ternyata, tahukah teman?. Di dalam dunia kesehatan jiwa atau psikologi, jenis penyakit ini dikenal dengan nama Parafilia Eksibisionisme. Jadi seseorang akan merasa puas (seksualnya) ketika seseorang itu berhasil memperlihatkan kelaminnya kepada orang lain (biasanya lawan jenis). Tapi tidak perlu khawatir, karena orang-orang tersebut hanya sebatas memperlihatkan tanpa menyentuh ataupun meminta kontak fisik lainnya. Ketika kita merasa kaget atau takut kemudian berteriak, maka itulah kepuasan seksual baginya. Ia akan merasa bangga dengan apa yang ia lakukan. Biasanya (tapi tidak selalu) orang-orang yang sudah puas memperlihatkan kelaminnya tersebut akan melanjutkan dengan masturbasi.

Nah.. Kenapa ada kelainan yang menyimpang seperti ini?. Ternyata, usut punya maksud, sebabnya ada 2, yaitu internal dan eksternal. Adapun internal bisa berupa genetik bawaan, sikap yang mudah terpengaruh, dll. Bisa juga gara-gara si pelaku ga bisa menyalurkan hasrat seksualnya sehingga memuaskannya dengan perilaku menyimpang.

Masih kata Anggi. Untuk menghentikan orang Eksibisionisme ini, ada cara khusus yaitu dengan mengecilkan hatinya. Harus dibuat down dan ga PD, sehingga ia merasa kapok untuk memperlihatkan kelaminnya dikemudian hari.

Misalnya, ketika Anggi dan temannya (sesama anak psikologi) bertemu dengan orang seperti ini, mereka berdua sontak menyorakinya dengan kata-kata, “Keciiiiilll… Keciiiiillll… Caaaciiiinggg… caaaciiinnggg…”, sambil ambil langkah seribu. Kabuurrrr. hahaha.

Ga kebayang itu gimana perasaan orang yang diledekkin kayak anak kecil. wkwk

So, buat kita-kita, perempuan-perempuan kostan, ga perlu takut dan cemas lagi ya dengan orang yang berperilaku belum normal seperti ini. Lakukanlah pencegahan dengan menghindari dan usahakan jangan sampai terlihat kaget, takut, apalagi berteriak. Karena itu akan membuat mereka semakin bahagia dan mengulangi tindakkannya. Tapi cobalah untuk membuat perasaan si pelaku down sehingga timbul perasaan trauma. hehe

Salam pagi sobat, terus semangat ya!

See u. :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s