Skripsi Vs Passion

Gambar

Sumber : Google Image

Disaat teman-teman lain berlomba menggampai kelulusan, haruskah saya masuk dalam barisan tersebut?.

Rata-rata teman rasanya seperti begitu bersemangat dalam menggapai mimpi, kelulusan. Gelar sarjana. Sarjana Teknik dibelakang nama.

Ibupun sudah bertanya, “kapan ujian pendadaran?”.

SubhanaAllah ibu.. MasyaAllah..

Untuk mengalihkan pembicaraan, lalu saya hanya berkata, “Mohon doakan gina ya bu, semoga bisa tahun ini..”.

Lalu ibupun akan mengucapkan kata-kata yang selalu bisa menentramkan hati, Alhamdulillah. Gina sayang kamu, ibu ku.. Ayah ku.. dan Saudari/saudara ku. :’)

Lantas, haruskah saya memaksakan diri untuk mengerjakan skripsi?.

Rasa-rasanya saya sekarang sedang tertarik untuk mengerjakan yang lain. InsyaAllah bermanfaat juga. Minimal bagi kepuasan rasa ingin tahu saya sendiri.

Lantas, haruskah saya tahan rasa ingin tahu ini dan menggantikannya dengan memelototi Solidworks berjam-jam demi menggambar body tamia yang disuruh dosen pembimbing?.

Ah teman. Hidup ini sungguh banyak definisi nya. Hanya saja, tetap sajalah berpegang pada tujuan yang satu. Menggapai keridhoan Tuhan kita, Allah.

Memang untuk mengerjakan sebuah tugas dan kewajiban itu terkadang perlu memaksakan diri untuk mau menyelesaikan tugas tersebut. Itu penting. Sungguh.

Tapi mengikuti passionmu jauh lebih baik bagimu. Kenapa?. Karena kau akan mencintai apa yang kau kerjakan.

Apakah passion itu?.

Passion itu, kalo dibahasaindonesiakan adalah Semangat, atau gairah. Jadi, bisa diartikan sebagai sesuatu yang dapat membuatmu mendapatkan semangat atau gairah atau kesenangan dalam mengerjakannya. Berkeinginan, berhasrat, bernafsu untuk menggapainya. Kamu bahkan akan rela begadang (walopun sebenarnya kamu tidak suka begadang) demi melakukan apa yang menjadi passion mu. Atau berkorban agar dapat melakukan passionmu tersebut.

Jika sudah begitu, kita akan memiliki semangat hidup. Semangat dan tujuan akan menjadikan hidup ini hebat dan penuh gairah.

Nah. Berarti jelas sudah permasalahan saya saat ini.

Saya belum menjadikan skripsi ini sebagai sebuah kegiatan yang menyenangkan untuk dilakukan. Belum membuat saya bersemangat dalam mengerjakanya. Belum menjadi passion.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana cara menjadikan skripsi ini sebagai passion (sementara) hidupmu, Gin?.

Ya, kenapa saya katakan sementara?. yah, jelas saja sudah. Karena saya tidak berencana untuk mengerjakan skripsi (terus-menerus) sepanjang hidup saya. Kecuali jika saya tiba-tiba berubah pikiran, ingin membuka jasa pembuatan skripsi. hehehe

Sebenarnya caranya mudah saja (dalam pengucapan). Saya paham, saya ngerti, InsyaAllah.

Kalo orang-orang jawa bilang, “witing tresno jalaran soko kulino“. Kurang lebih mungkin bisa diartikan begini, “Biasain aja, nanti lama-lama juga cinta datang sendiri“.

Itulah caranya. Cara yang paling masuk akal, menurut akal sehat saya saat ini. Paksakan!. Nanti cinta itu akan jatuh pada hatimu.

Jadi,, bukalah skripsi dengan pemaksaan diri dan tutuplah skripsi dengan perasaan senang dihati. Mudah-mudahan Allah meridhoi dan akan ditumbukannya rasa cinta pada dunia menulis (penelitian, karya tulis ilmiah) sebagai hadiah.😀

Yuk kawan, sama-sama memaksakan diri. Ini kesempatan untuk belajar jatuh cinta! hehe

Selamat memaksakan diriiiii.😀

2 thoughts on “Skripsi Vs Passion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s