Be a Mother

GambarSumber : Google Image

Setelah diliat-liat lagi, dicoba-coba untuk paham, pekerjaan sebagai ibu sungguh sulit.

Harus banyak persiapan. Harus banyak pengetahuan. Contoh minimal pengetahuan tentang merawat anak.

Beberapa hari yang lalu saya pergi menjenguk seorang dosen yang baru melahirkan.

Di rumahnya saya melihat banyak buku tentang anak. Mulai dari merawat anak yang masih dalam kandungan sampai anak sudah lahir. Semua detail didalam buku-buku tersebut.

Misalnya, ketika anak tersedak, apa yang harus dilakukan seorang ibu. Ketika anak menangis, ibu harus mengerti apa yang diingini anak. Ketika anak mulai balita dan tumbuh gigi apa yang harus ibu perbuat (karena biasanya pada anak kecil yang baru tumbuh gigi pertamakalinya akan terasa sangat gatal sekali digusinya). Ketika si anak tidak mau makan apa strategi ibu untuk menghadapinya.

Sampai masalah besar misalnya seperti si anak ternyata tidak pernah mau melihat mata lawan bicaranya, asik dengan dunia/mainannya sendiri, hanya bisa memahami/mengulang kata yang itu-itu saja yang kemudian dalam dunia psikologi penyakit ini disebut sebagai Autistic Spectrum Disoder.

Jadi seorang ibu juga harus paham tentang gejala penyakit mulai dari fisik maupun psikologis pada anak. Tidak hanya itu, ibu juga harus tau tindakkan pertama untuk menghadapi gelaja-gejala pernyakit tersebut.

Cobalah tengok lingkungan disekitar kita. Masih banyak juga ternyata ibu-ibu yang belum paham tentang hakikatnya.

Contoh kecilnya saja, ketika saya pulang kampung, masih saja saya sering mendapati orang tua yang menyengaja berbicara pada anak dengan dicedel-cadelkan. Misal, kata “lari” dicadelkan menjadi “lali”, “bisa” menjadi “bica” dan lain sebagainya. Mungkin ketika si anak masih kecil dan berbicara seperti itu akan terlihat imut dan menggemaskan. Tapi tunggulah besar, jika kebiasaan itu berlajut. Apa yang terjadi?.

Mendidik anak juga tidak bisa main-main dan bukan perkara mudah.

Lihat saja disekitar kita, berapa ibu yang kewalahan menghadapi anaknya?. Berapa ibu yang tidak bisa mengendalikan anaknya?.

Sehingga akan wajar terdengar bila ada ibu yang mengeluh anaknya tidak mau nurut, ada yang ngeluh anaknya nakal dan ga sopan, ada yang ngeluh anaknya pemalas dan lain sebagainya.

Bisa jadi, perilaku tidak baik seperti itu karena pengetahuan ibu yang kurang. Barangkali ibu tidak tau apa yang diinginkan anak, ibu tidak paham cara yang tepat untuk mengajari anak, dan ibu belum membiasakan kebiasaan baik pada anak.

Seorang ibu juga harus berpendidikkan. Atau minimal paham tentang sejarah. Agar dapat menceritakan sejarah-sejarah orang hebat zaman nabi, orang-orang hebat/penemu dunia.

Lihatlah saudaraiku, pekerjaan sebagai ibu itu sungguh berat. Banyak yang harus dipersiapkan.

Dan cobalah ingat, sudah seberapajauhkah kita memahami tugas wajib kita?. Sudah seberapabanyakkah persiapan yang kita lakukan untuk mengerjakan tugas wajib tersebut?.

Jadi mengapa kita harus berlomba-lomba dengan lelaki dalam hal mencari harta dan tahta?. Biarlah, berikan itu pada lelaki. Kita cukup sekedarnya saja.

Saya tidak melarang perempuan sekolah yang tinggi. Bahkan jika ingin kuliah sampai S3 pun silahkan jika keadaan memungkinkan. Hanya saja, jangan mengedepankan tugas sunnah dan mengesampingkan tugas wajib kita.

Jadi yuk, belajar sama-sama ^ ^.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s