Inginnya Ibu

Siang ini tiba-tiba si ibu menelpon. Ini kejadian langka!

Sangat jarang kami telpon2an. Atau jikapun menelepon memang lebih sering tentang masalah2 yang jelas dan urgent. Misal, ketika saya ingin meminta uang kuliah atau saya ingin pulang ke Jambi.

Namun agak berbeda dengan hari ini. Kami telpon2an tanpa 2 hal diatas.๐Ÿ˜€

Barangkali karena ibu tidak sedang di istananya (baca : rumah). hehe. Kalo lagi di rumah. Wah. Jangan tanya. Beliau akan sibuk sekali. Kalau tidak mengobati pasien, ya mengurus ladangnya. Atau jika tidak, sibuk memasak ataupun kegiatan ibu-ibu PKK. Pokoknya super sibuk. Sehingga sering telpon saya ga diangkat atau dimatikan dengan cepat. haha

Sekarang saya mendapatkan semangat baru untuk mengerjakan TA. Semua karena inginnya ibu. Sangat jarang beliau meminta sesuatu pada saya. Apalagi menyangkut hidup saya sendiri.

“Gina sudah dewasa. Hidup Gina, Ginalah yang tau mana yang terbaik. Gina perempuan, harga diri ga bisa di beli. Ibu hanya bisa mendukung, berdoa dan membantu semampu ibu”. Begitulah nasehatnya.

Jadi bisa diartikan ketika beliau sudah berkata, itu artinya memang keinginan yang jauh datang dari lubuk hatinya. hehehe

Sewaktu di telpon tadi akhirnya si ibu bertanya lagi kapan saya hendak lulus?.

Saya bingung. Saya katakan saya takut memberi harapan. Dan ibu hanya tertawa-tawa.

Ibu bilang, “rasa-rasanya jogja itu udah deket banget ama ibu. Rasa-rasa mau kesana bentar lagi. Udah kebayang-bayang”.

Saya hanya tertawa. Mengerti maksutnya ibu.

Ibu juga mengingatkan saya kalo agustus besok beliau ulang tahun.

“Bisa loh kadonya kelulusanmu”. Candanya. Canda yang mengena. hehe

Ibu juga menanyakan saya mau bekerja apa sehabis ini?.

Lagi-lagi saya bingung. Bingung bukan karena saya tidak punya rencana. Tapi bingung gimana cara mau menjelaskan rencana saya. haha

Lalu saya tanya kan saja, “Ibu maunya gimana? Pekerjaan yang ibu ridhoi untuk Gina apa?”.

“PNS di Jambi”. Jawab ibu mantap.

“Jangan kerja di jakarta. Ruwet. Kentut aja bayar”. Tambahnya.

Saya terkekeh.

“Lalu apa lagi?”. Tanya saya.

“Kerja apa aja boleh, memang ga harus PNS. Asal jangan di Jakarta. Di Jogja boleh. Di Bandung boleh”.

Begitulah ibu. Stright to the point. No basa-basi.

Ibu bilang,

“Kalo kita sudah usaha, Allah pasti kasih rezeki. Jadi gausa takut. Ibu aja yang walaupun PNS bisa menyekolahkan anak ibu sampai tinggi-tinggi. Gina bisa sampai ke Jogja”.

“Yang penting itu, hidup punya tempat berteduh. Baru selanjutnya pikirkan sandang dan pangan”. Tambahnya.

“Gina harus tau untuk apa waktu sisa Gina. Pergunakan sebaik-baiknya”. Pungkasnya.

Itulah inginnya ibu. Yang kesemuanya memang untuk kebaikkan saya sendiri. ^ ^

Sebenarnya saya khawatir. Takut membuat ibu kecewa.

“Biasanya kalo ibu yang pengen, Allah turun tangan kok. Tenang aja”. Kata seorang sahabat saya. Yang bisa langsung menenangkan saya. hehe

Aamiin.. Ya Allah..

Mari teman, SEMANGAT! Membahagiakan orang tua.. ^ ^

2 thoughts on “Inginnya Ibu

  1. Semangat ayuk geeeenaa. Allah bersama orang-orang yang berusaha. Yuk hubungan sama vertikal (Allah) harus di seimbangkan dengan Hubungan Horizontal juga ya yuk( manusia).. Bismillah perkuat dengan doa buat keinginan ibu tuh yuk!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s