Tujuan Masing-Masing dan Cemburunya Ibu

Pada akhirnya kita memang harus menentukan sendiri mau dibawa kemana perjalanan hidup ini.

Tadi pagi ada seorang saudari yang berkunjung kekostan. Biasa. Ketika sesama wanita saling bertemu, kami seringkali curhat-curhatan. Mulai dari masalah kampus-jodoh-sampai keluarga.

Kali ini temanya juga tidak jauh-jauh dari ketiga masalah diatas. Setelah bercerita panjang kali lebar tentang kehidupan kampus, tugas kami sebagai mahasiswi tingkat akhir, tentang hal-hal yang sedang diupayakan sekarang sampai kelak kedepannya akan seperti apa.

Ia selalu bercerita tentang keluarganya. Begitupun saya. Saling bercerita dan berbagi makna.

Masalah pelik yang belum bisa diselesaikannya dari beberapa semester belakangan ini adalah tentang belum matchingnya keinginan sang ibu dan sang kakaknya. Menyangkut jodoh. Wanita seperti apapun yang dibawa oleh sang kakak belum juga dapat memuaskan hati ibunya.

Niat ibunya memang baik. Ingin memberikan yang terbaik dan tersempurna bagi anak laki-laki tertuanya. Masalahnya hanya satu. Apa yang sempurna dimata ibunya belum tentu sesuai dan cocok dengan keinginan anaknya.

Teman. Setiap dari kita memiliki masing-masing tujuan hidup yang seharusnya bermuara pada yang satu, yaitu keridhoan Tuhan.

Niat yang baik harus dilaksanakan dengan cara yang baik pula. Terlalu protektif terhadap keinginan anak rasa-rasanya bukan hal yang terlalu baik, juga tidak terlalu buruk. Ketika anak sudah dewasa, saya pikir sudah selayaknya ia menentukan sendiri apa yang ia inginkan.

Namun satu hal yang saya pahami dan mengerti dari cerita saudari saya itu. Ibunya belum ikhlas untuk melepas anak lelaki tertuanya. Barangkali takut sibuk ketika sudah berkeluarga. Saya rasa ini wajar. Mengingat ialah yang membesarkan dan merawat anaknya sampai menjadi seperti sekarang. hehe

Dan saya rasa itulah sebab mengapa ibunya belum juga “sreg” dengan wanita seperti apapun yang kakaknya bawa ke rumah untuk kemudian diperkenalkan sebagai calon istri. Bukan karena wanita itu tidak baik. Tapi lebih kepada rasa sayang dan cemburu ibunya. ^ ^

Dan mungkin itulah sebab mengapa islam mewajibkan anak laki-lakinya tunduk dan nurut kepada ibunya dulu baru istrinya.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s