Media Informasi dan Rumus Menela’ahnya

Gambar

Seiring dengan perkembangan zaman, berkembang jugalah peradaban dunia manusia. Jika dulu hanya dikenal dunia nyata, kinipun masyur kehidupan dunia maya. Siapa yang tak kenal internet?. Setiap anak diajarkan untuk tidak gaptek. Untuk mengerti internet dan mengambil manfaat darinya.

Hampir semua informasi bisa kita dapatkan dari dunia maya. Ketikkan apa saja di web browser Anda, dan Andapun akan segera menemukan jawabannya.

Sampai-sampai ada yang bilang, “Tempat bertanya pertama adalah Tuhan, yang kedua adalah Google”. hehe

Namun, sebagai konsumen/pengguna, tentu kita harus tetap berlaku cerdas. Tidak semua informasi yang ada dalam internet benar. Oleh sebab itu kita diminta untuk lebih hati-hati dan menelaah terlebih dahulu terhadap suatu berita. Hebatnya lagi, hal ini pun juga sudah dijelaskan oleh Al-Qur’an, buku panduan hidup kita. :’D.

“Wahai orang-orang beriman! Jika seorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu”.

(QS. Al-Hujarat(49) : 6)

Menurut Asbabun Nuzulnya, suatu hari Rasulullah SAW menyerukan kepada Harits bin Dhirar al-Khuza’i ra untuk masuk islam. Iapun (Harits) menerima islam dan nabi SAW menyerunya untuk membazar zakat dan iapun (Harits) menyetujuinya. Lalu Harits Bin Dhirar al-Khuza’i ra meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk pulang kepada kaumnya agar ia dapat menyeru mereka kepada islam dan menunaikan zakat. Ia (Harits) juga meminta kepada Nabi SAW untuk mengirimkan seorang utusan kepadanya (ke iban) untuk mengambil zakat yang berhasil ia kumpulkan dari orang-orang yang memenuhi seruannya (untuk masuk islam). Namun, saat ia telah mengumpulkan zakat, belum juga ada orang yang datang menemuinya untuk mengambil zakat tersebut. Sehingga ia pun pergi menemui Rasulullah.

Dilain pihak, ternyata Rasulullah mengirimkan Walid bin ‘Uqbah untuk mengambil zakat tersebut. Namun Walid pulang kembali dan membuat laporan palsu bahwa Harits tidak menyerahkan zakat dan hendak membunuhnya. Sehingga Rasulullah mengirimkan utusan berikutnya kepada Harits (untuk mengkonfirmasi kebenaran berita yang dibawa oleh Walid).

Sampai akhirnya Harits dan utusan Rasulullah yang kedua itu bertemu ditengah perjalanan. Akhirnya mereka sepakat bersama-sama menghadap Rasulullah. Sesampainya dihadapan Rasulullah, Rasulullah SAW bertanya kepada harits, “Mengapa kau menahan zakat dan mau membunuh Walid, utusanku?”. “Demi Allah, aku tak berbuat kedua hal itu”. Jawab Harits.

Lihatlah. Teladan Rasulullah bersikap terhadap informasi yang didapatnya. :’).

Rasa-rasanya agak berbanding terbalik dengan media informasi yang ada sekarang ini. Ingat betul saya, dulu, ketika jamannya merapi Yogya bernyanyi ria. Ayah, ibu dan sanak saudara dikampung halaman begitu cemas dengan saya yang notabene tinggal digunung merapi. Informasi yang lebay ga karuan malah membuat resah. Padahal saya biasa-baisa saja. Malah sedang ujian tengah semester sambil menikmati nyanyia merapi. Ah.. Media informasi. Berguna namun juga berbahaya. Jadi yuk sama-sama belajar menelaah informasi. Saya juga masih banyak ketipu. hehe

Salam hangat teman. ^ ^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s