Perut Diskonan


DISKON. Banyak mata terbuka selebar-lebarnya ketika membaca kata ini, begitu jugalah yang terjadi beberapa hari yang lalu. Malam itu saya bersama kakak dan abang ipar pergi berbelanja ke supermarket untuk keperluan dapur. Di dalam pasar modern yang serba ada itu terbentanglah segala macam bentuk promosi untuk menarik minat pengunjung. Dari furnitur, baju, sampai makanan. Lengkap barangnya dan lengkap pulalah trik berjualannya. Mulai dari beli 4 gratis 1 sampai diskon yang sebenarnya tidak benar-benar diskon, alias diskon semu. hehe

Banyak pengunjung yang terperangkap dalam strategi promisi ini. Salah satunya kakak saya. Begitu kalap bila melihat kata dikson atau gratis. Misalnya sewaktu kami ingin membeli biskuit kaleng untuk kue lebaran, diskusi berlangsung alot. Di papan harganya tertulis besar-besar kata beli 4 gratis 1 dan otak saya langsung mencerna, mencari celah strategi marketing yang sedang direalisasikan.

Aha!! Itu dia. Mari kita berhitung. Begini, promosi beli 4 gratis 1 itu hanya berlaku untuk kaleng biskuit ukuran kecil (350 gram), sedangkan yang ukuran besar (702 gram) tidak ada promosi. 1 Kaleng biskuit ukuran 350 gram itu dihargai sebesar Rp. 27.500 sedangkan untuk ukuran kaleng 702 gram dihargai Rp. 43.900. Bila kita perhatikan dengan cermat, iklan beli 4 gratis 1 itu sebenarnya bohong. Itu tidak gratis sama skali. Kita tetap membelinya tanpa kita sadari. Coba saja hitung.

Kaleng besar adalah dua kalinya kaleng kecil. Jadi, jika dihitung menurut harga normal (harga yang tidak diskon) harga sekaleng kecil biskuit itu seharusnya berkisar kira-kira Rp. 21.950 (Rp. 43.900/2). Nah, sedangkan harga yang terpampang dipapan promosinya adalah sebesar Rp. 27.500. Berarti ada selisih harga Rp. 5.550. Bila kita beli 4 kaleng biskuit ukuran kecil, maka harga selisihnya menjadi Rp. 5.550 * 4 = Rp. 22.200. Artinya kita sudah bisa membeli sekaleng biskuit ukuran kecil dengan selisih harga itu. Naaahh! Jelaskan?. Jadi sebenarnya kita beli, ga gratis sama skali. Kita tetap bayar dengan selisih harganya itu.

Lalu kakak saya juga tergiur dengan es krim yang pada pembelian keduanya akan mendapatkan potongan harga. Saya kembali curiga. Es krim itu seingat saya tidak semahal itu. Dan ternyata lagi-lagi kecurigaan saya benar. Harga eskrim promosi itu dibandrol dengan harga Rp. 36.000 dan untuk pembelian kedua cukup membayar Rp. 5.500. Padahal harga asli eskrim sebelum diskon adalah Rp. 19.000- Rp. 20.000. Ah, ini sih kentara betul. Coba saja tambahkan kedua harga itu, Rp. 36.000 + Rp. 5.500 = Rp. 41.500. Bila harga asli eskrim Rp. 20.000, maka untuk pembeliaย  2 cup eskrim harga yang harus kita bayar menjadi Rp. 40.000. Nah! Lagi-lagi kita tidak mendapatkan potongan harga apapun kan?. haha

Strategi yang konyol. Tapi tetap memakan banyak korban. Korban yang belum jeli.

Intinya, sepanjang kita mau berfikir logis dan tahu harga asli si produk sebelum didiskon, maka diskon yang ada itu sejatinya hanyalah diskon semu yang menggiurkan. Sebagai perempuan, marilah kita jeli sebelum membeli. ๐Ÿ˜€

Selamat malam sobat, selamat istirahat. ^ ^

160231_belanja-diskon_663_382

Advertisements

Selingkuh Vs Poligami


Tadi malam saya mendengar kabar perselingkuhan (lagi). Semenjak pulang kampung ini sudah dua kali saya mendengar berita jenis ini. Entah mengapa. Padahal belum sampai seminggu saya pulang. Barangkali Tuhan ingin mengajarkan saya tentang kehidupan berpasangan melalui orang lain. hehe.

Penyebab keretakkan diindikasikan akibat belum dikaruniakannya seorang anak sebagai pengikat hubungan pernikahan itu sendiri. Sehingga datanglah wanita lain dalam kehidupan laki-laki ini. Barangkali sudah tak sabar ingin mendapatkan momongan. Atau barangkali sekedar pensemuan antara hawa nafsu dan kekurangan rumah tangga.

Saya jadi berfikir sekaligus merasa disinilah letak pentingnya kesamaan tujuan dalam pernikahan. Sehingga apapun yang menggoncang, kita akan tetap satu tujuan dan satu pemikiran, tinggal samakan irama langkah.

Sekarang anggaplah sebuah rumah tangga itu belum dikaruniakan anak hingga usia pernikahannya mencapai 8 tahun, segala daya upaya telah dilakukan namun masih belum dititipkan. Apakah lantas mencari wanita lain adalah solusi?. Jika ya, tidak masalah. Tapi lakukanlah dengan cara yang benar. Bukan dengan berselingkuh.

Sekarang zaman juga sudah modern. Ada metode bayi tabung dengan tingkat keberhasilan 30-40% untuk pasangan yang susah mendapatkan anak. Mahal sih, tapi jika memang berniat sungguh-sungguh, tentu segala macam bentuk rintangan akan dilewati?. Allah bersama orang-orang yang berusaha. Begitukan firmanNya?.

Jadi menurut saya, seharusnya mencari wanita lain adalah langkah paling akhir diantara yang paling akhir. Jangan sampai kekurangan rumah tangga menjadi gerak semu untuk mengikuti hawa nafsu.

Dalam islam sendiri ada yang namanya poligami. Ini dapat menjadi solusi walaupun masih banyak diperdebatkan. Islam mengatur kehidupan manusia sedemikian rupa untuk memudahkan dan membahagiakan manusia. Poligami itu syaratnya berat loh. Harus adil. Nah definisi adil itu sendiri akan menjadi sangat abstrak bila takarannya adalah perasaan.

Perselingkuhan dan poligami sama-sama menyakitkannya bagi sebagian perempuan kecuali bagi 2 jenis perempuan, pertama jenis perempuan yang tidak mencintai suaminya, dan kedua jenis perempuan solehah yang amat taat dan mencintai Tuhannya. Selebihnya saya kira tidak akan rela.

Namun daripada selingkuh, memang lebih baik poligami. Setidak-tidaknya inilah jalan yang diridhoi Allah.

Sehingga tujuan dalam pernikahan ini sangatlah penting. Ketika masalah-masalah terjadi dalam rumah tangga ingatlah kembali apa tujuan dalam pernikahan itu sendiri. Jika memang niatnya ingin menyempurnakan setengah agama dan menggapai ridho Allah, sudah barang tentu poligami menjadi solusi. Sebab bercerai adalah sesuatu yang tidak disukai Allah namun diperbolehkanNya. ^^

Sulit, tapi ya apa boleh buat. Ingat aja Allah pasti ga akan kasi kita cobaan lebih dari kemampuan kita untuk menanggungnya. Kalo tetep ga kuat, ya mau bagaimana lagi, bercerailah dan jangan malah berselingkuh!.

Sahur On The Road


Gambar
Sumber Google Image

Selasa kemaren, tepatnya 23 Juli 2013, saya dan beberapa teman pergi untuk memberikan sahur kepada orang-orang di jalanan. Ini jujurnya pengalaman pertama saya. Pengalaman yang berharga.

Acara sahur On The Road itu sendiri berjalan sederhana, kami hanya menyediakan beberapa bungkus nasi dan air mineral lalu membagi-bagikannya kepada orang-orang di becak, yang tidur dijalanan dan di kolong jembatan. Saya sangat jarang sekali melihat pemandangan seperti ini di Jambi. Bahkan saya rasa tidak pernah. Oleh sebab itulah saya heran.

Apa benar mereka tidak memiliki tempat tinggal?. Mengapa sampai tidur di jalanan?. Mereka mandi dimana?. Apa beneran ga ada keluarga yang bisa bantu?. Dan segudang pertanyaan lain berkecamuk di dalam otak saya.

Memang malam itu udara jogja tidak begitu dingin dan langit terlihat cerah. Beda betul dengan hari-hari sebelumnya yang cenderung dingin bahkan hujan. Nah, kalau hujan mereka bagaimana?. Mau tidur dimana?. Saya belum bisa membayangkannya.

Maka, saat itulah saya benar-benar merasa hidup saya sangat beruntung, serba berkecukupan, serba keberlimpahan. Dan saat itu pula lah saya semakin sadar bahwa saya memang jarang sekali bersyukur. Bahwa Tuhan sudah sangat baik pada saya dan keluarga, bahwa Tuhan masih mengabulkan keinginan-keinginan kami.

Cobalah kita ingat teman, seberapa sering kita bersyukur dalam sehari?. Kita terkadang hanya mengingat apa yang belum Tuhan beri lalu mengeluh, sedang lupa dengan apa yang telah Tuhan berikan dan tidak bersyukur. Padahal Tuhan sudah memberikan kita pendengaran, penglihatan dan hati nurani agar kita bersyukur (Qs. An-Nahl (16) : 78).

Allahpun sudah memberikan kita warning memalui beberapa firmannya seperti yang terdapat pada Qs. Saba’ (34) :14,

“…… Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur”.

Allah sudah mengingatkan kita bahwa sedikit sekali dari kita yang mampu bersyukur, sudah tau begitu harusnya kita makin sadar bahwa kita-kita ini masih jarang besyukur. Orang-orang pilihan sekaliber nabi dan rasul aja masih memohon padaNya agar diberikan kemampuan bersyukur. Nah, bagaimana dengan kita?.

Yuk deh teman sama-sama belajar bersyukur. Bila bersyukur masih terasa sulit, cobalah lihat kebawah. Ke orang-orang yang lebih susah dari kita. Nabi Muhammad SAW pun juga pernah menganjurkan begitu. ๐Ÿ™‚

“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri niโ€™mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.

(Doa nabi Sulaiman as, Qs. An-Naml (27) :19)

Pak Datuk


Gambar
Sumber Google Image

Tubuhnya Bungkuk, kepalanya agak plontos, jalannya lambat, bicaranya sedikit, dan selalu solat berjamaah di mesjid. Itulah pak datuk. Secara pribadi saya tidak begitu mengenalnya, namun setiap saya solat di mesjid, saya akan mendapatinya sedang solat ataupun duduk di pojokkan mesjid. Selalu dipojokkan yang sama, pojokkan kanan. Semoga engkau masuk golongan kanan ya pak datuuuukk.. aamiin.

Sekarang umur beliau sudah memasuki usia 90 tahun. Entah 90 berapa tepatnya. Hebatnya, dengan umur setua itu, beliau juga selalu solat berjamaah di mesjid. Setiap hari, setiap solat fardu. Ia akan menjadi orang yang pertama kali membukakan pintu mesjid dan menjadi orang yang terakhir untuk mengunci mesjid.

Hari tuanya disibukkan dengan kehidupan yang abadi. Kehidupan setelah mati. Dunia juga sepertinya sudah tak dipikirkannya lagi. Anaknya sudah besar, sudah memiliki keluarga masing-masing. Cucu-cucunya bahkan sudah bekerja. Kini tinggallah ia dengan Tuhannya, bermesraan berdua, menanti hari pertemuan mereka.

Indah ya teman bila setiap hari kita disibukkan bermesraan dengan Allah. Sungguh indah.

Maka untuk mencapai kemesraan itu dihari tua, sudah seharusnya kita belajar untuk bermesraan denganNya semenjak muda.

Tidak sedikit juga orang tua yang masih disibukkan dengan kehidupan dunia. Yang masih memikirkan harta dan dunia. Sungguh ga sedikit.

Semoga kita jadi orang yang beruntung, orang yang setiap harinya selalu lebih baik dari hari kemarin. Aamiin..

Jambi, 24 juli 2013

Sepasang Orang Tua


Jambi, 2013-07-24

Alhamdulillaaaahhh.. akhirnya di Jambi juga. Jambi masih belum berubah. Masih dengan kesibukkan dan memori-memorinya. ^^.

Rumah juga tidak berubah. Masih sepi. Tinggal sepasang suami istri yang saling mengisi. Bapak dan mamak jambi, kami memanggilnya. Sepasang orang tua yang telah merawat saya dari SMP ini semakin renta. Guratan dan keriput tak terelakkan. Rambut yang beruban dan alis yang memutih menjadi saksi. Tidak terasa, sudah 75 tahun umur bapak dan 73 tahun umur mamak. Perkataan mereka semakin ringkih, bahkan cenderung cadel. Tapi, Alhamdulillahnya beliau berdua tetap istiqomah dalam beribadah. ^^.

Setiap hari beliau berdua selalu pergi solat ke mesjid. Hidup teratur. Kalau dulu, ketika saya masih SMP dan SMA, beliau berdua hanya ke mesjid pada solat subuh, magrib dan isya. Dan sekarang, semenjak saya kuliah, makin seringlah beliau ke mesjid. Setiap solat wajib.

Indah ya kalau suami-istri bisa saling mengisi. :D. Seperti bapak dan mamak ini. Terlepas dari segala kekurangan mereka, terlepas dari segala kecerewetan mereka memarahi saya sewaktu remaja dulu (yang sebenarnya sih demi kebaikkan saya,hhe), begitu menginspirasi saya. Sudah sejak lama saya sering mendapati mereka bermunajat disepertiga malamnya. Saling membangunkan, saling mengingatkan. Setiap hari solat berjamaah.

Bapak dan mamak jambi juga pasangan yang kompak.

Mamak cemas terhadap sakit asam urat bapak yang belakangan ini semakin sering kambuh dan bapak khawatir dengan gusi mamak yang tak kunjung sembuh. Setiap ditanya kabar, mereka akan lebih dulu memberitahukan kondisi pasangannya. Misalnya kemaren saya menelpon mamak, saya tanyakan kabarnya, dan beliau jawab, โ€œmamak ya gitulah. Bapak tu yang asam uratnya kambuh. Banyak pantangan makannya.โ€. begitupun dengan bapak, ketika ditanya kabar beliaupun menjawab, โ€œbapak ya kayak gitulah. Mamak tu yang sakit giginya ga sembuh-sembuh. Minum obat terusโ€.

Ehehe.. kompakkan?.

Sekarang saya semakin sadar arti sebuah pasangan. Sungguh jangan melihat parasnya. Seberapalamakah paras akan bertahan?. Jangan melihat dari hartanya, seberapa kuatkah harta membahagiakan?. Dan sungguh jangan melihat dari ketenarannya, seberapabanyakkah orang baik yang tidak terkenal?.

Tapi lihatlah hati dari kebiasaannya. Kebiasaan itu kelak yang dapat menyelamatkan kita. Baik kebiasaannya, akan baik dan bahagia pulalah kita, sedang buruk kebiasaannya, maka akan buruk pulalah perasaan kita.

Rayulah Tuhan agar memberikan kita pasangan yang hebat. Rayulah Dia dengan ketekunan dalam beribadah. Continuous Self Improvement!. Perbaikkan diri yang terus menerus. Yuk deh kita mulai sama-sama, teman. ๐Ÿ˜€

Gambar
Sumber Google Image

Nostalgila Masalalu


Dulu, ketika zaman jahiliyah SMA, saya sering sekali diusir pulang oleh guru Bimbingan Konseling alias BK. Musababnya kecil : peraturan sekolah yang mendadak berubah. Yang dulunya telat datang ke sekolah masih boleh masuk menjadi tidak boleh masuk sama sekali dan diusir pulang. T___T. Yah, walo ketika si gurunya sedang baik, kami diperbolehkan masuk dengan syarat di strap, buat perjanjian atau panggil orang tua.

Bagi saya pribadi, dipanggilnya orang tua karena sering terlambatnya saya datang ke sekolah itu lebih parah ketimbang saya diusir ga boleh masuk sekolah. hehehe. alasannya simpel, saya malas dimarahi. Apalagi membayangkan kehidupan saya selanjutnya yang akan selalu diomeli bila bangun kesiangan.

Biasanya kami telat datang ke sekolah berjamaah. Dan tak jarang orangnya yang itu-itu aja. hehehe. Sesekali memelas, memohon belaskasihan si guru agar diperbolehkan masuk, sesekali tetap melanjutkan bolos sekolah dengan alasan diusir dan berakhir di warung bakso samping sekolah, dan sesekali juga, ketika sedang rajin, kami berusaha memanjat tembok belakang sekolah demi menuntut ilmu *wuz.

Alasan saya telat datang ke sekolah itu sih sebenarnya beragam. Mulai dari memang kebiasaan yang malas bangun pagi, kendala angkot yang berjalan bagai siput sampai nyasar pergi ke sekolah sendiri -_-.

Dulu dibangunin mamak jambi kira-kira jam 5 subuh, saya akan menambah waktu ekstra tidur kira-kira setengah jam. Hasilnya : bangun jam 5:30. Mandi setengah jam (6:00), siap-siap sekolah setengah jam (6:30). Perjalanan ke sekolah setengah jam (7:00). Masuk sekolah jam 7:00. Estimasi waktu yang pas-pasan.

Malangnya, angkot-angkot jambi akan sangat tidak bersahabat bila kau telat 5 menit saja. Ia akan berjalan bagai siput. Sibuk mencari penumpang. Saya yang didalamnya biasanya hanya bisa ketar-ketir sambil berdoa, “Ya Allah, tolong ya Allah”. Atau sesekali berjanji dalam hati kalo gamau telat lagi yang pada akhirnya saya ingkari sendiri. T_T

Pernah juga saya nyasar pergi ke sekolah gara-gara coba naik angkot lain tanpa bertanya arah tujuannya. Saya yang memang kurang cepat menghafal jalan tidak tahu bahwa si angkot menggiring saya ke jalan yang salah. Hasilnya, saya sampai sekolah hampir jam 8an pagi. Untunglah waktu itu peraturan sekolah belum berubah, jadi masih diperbolehkan masuk. Hanya saja bayarannya adalah ditertawakan anak satu kelas karena alasan yang konyol itu. T_T

Ketika niat dan tindakan tidak selaras, jadilah kami memanjat tembok belakang sekolah. Niat hati ingin sekolah, namun apa daya kebiasaan telat rupanya masih lebih besar.

Hari itu adalah kali pertama saya mencoba memanjat tembok sekolah. Dengan hati deg-degan saya mulai manjat. Tangga yang licin dan terjal sempat membuat saya ragu. Rasanya konyol bila saya tiba-tiba jatuh dan keesokkan harinya timbul berita koran dengan judul, “Seorang siswi SMA N 1 Jambi jatuh terkangkang ketika sedang memanjat tembok sekolah”.

Tapi untunglah Allah masih sayang saya dan teman-teman. Kami selamat semua. Namun nahasnya, usaha kami tersebut langsung tertangkap basah oleh seorang guru tepat setelah kami semua berhasil masuk ke sekolah. hahaha. Nasip nasip. Apa mau di kata. Belum lagi perasaan gondok yang mendera. Ternyata, tak lama berselang, pintu pagar yang ketika kami datang terkunci rapat, kini sudah terbuka lebar . Mempersilakan siapa saja untuk masuk, termasuk yang datang telat. Yassalam.. *nelenliur*

Keesokkan harinya, tetap ada berita konyol. Yaitu tembok belakang sekolah yang rubuh. Jadilah kami yang kepergok manjat tembok belakang dipanggil oleh guru BK. T____T.

Semenjak itu saya bertekad tidak akan memanjat tembok belakang sekolah lagi. Saya kapok. Akhirnya saya memutuskan bila terdesak hanya akan memanjat tembok samping sekolah saja. hehehe. Selain lebih safety, juga tembok itu tidak tinggi dan lumayan mudah untuk dipanjat.

Waktu itu guru saya bilang, “Kamu itu berjilbab, masak kelakuannya gitu”. Dulu, saya sangat mengingkari kata-kata ini. Saya pikir apa salahnya manjat tembok demi bisa sekolah. hehehe.

Sekarang barulah saya paham bahwa jilbab memang perintah Tuhan yang wajib perempuan taati (QS : Al-Ahzab (33) : 59 dan QS. An-Nur (24) : 31) dan ketika kita sudah berjilbab hendaknya juga menyelaraskan tindakkan dan perbuatan.

Jangan gara-gara kita -si perempuan berjilbab namun belum sepenuhnya- ini mencoreng kebaikkan muslimah sejati yang benar-benar ingin menjaga aurat dan memperbaiki ahklaknya demi keridhoan Allah. ๐Ÿ™‚

Masalalu biarlah jadi masalalu. Jadikan pelajaran untuk menjadi lebih baik. InsyaAllah.

Yuk semangat pagi teman ๐Ÿ˜€

Evaluasi Idola


Sekarang dimana-mana ada korea. Artis korea, drama korea, boy/girl band korea, liburan ke korea, baju gaya korea dan korea-korea lainya. Saking ngefansnya tak jarang kita mengeluarkan kocek cukup dalam untuk si idola. Entah untuk konser, beli kaset sampai kirim kado untuk si idola nun jauh di negeri seberang. Pusssiiiinnnggg,… hehehe

Teman saya ada loh yang rela nonton konser seharga 1,5 juta rupiah. Bukan duit yang sedikit (bagi saya, hehe). Ada juga yang rela bersusah payah mengirimkan kado untuk idolanya sampai meluangkan waktu berhari-hari memikirkan hadiah apa yang cocok untuk si idola agar si idola senang dan berharap ia akan diingat oleh si idola. SubhanaAllah sekali.

Nah, pertanyaannya teman,

sudahkah kita seroyal itu terhadap Allah?. Allah yang memiliki dunia dan seisinya ini, yang menciptakan idola kita itu. Sudahkah sedekah 1,5 juta itu terasa mudah bagi kita?. Sudahkah kita memikirkan Allah? Memikirkan apa yang disukai Allah?.

Sudahkah kita mengidolakan kekasih Allah?. Yang dengan selalu berselawat padanya kita mendapat pahala dan pertolongan dihari akhir?. Yang dengan bersalawat, terbukanya pintu langit dan terkabulnya doa-doa. Sudahkah kita berusaha mengikuti semua ajarannya?.ย  Dia yang memikirkan kita walau sedang sakaratul maut.. “Ummatti.. Ummatti..” rintihnya.

Jika jawabannya belum, saran saya lebih baik kita ubah idola kita. Sebab sayapun masih belum bisa sepenuhnya bisa mengidolakan Allah dan Nabi besar Muhammad SAW. Jadi yuk teman, sama-sama belajar untuk melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan segala laranganNya sebagai bentuk rasa cinta dan kasih sayang kita padaNya dan kekasihNya.

Mari kita ingat-ingat bahwa sang idola tidak akan mampu menyelamatkan diri kita di akhirat kelak.

Salam. m/

Mamak Jambi


Mamak jambi. Begitulah kami memanggilnya. Bukan karena namanya “jambi” tapi lebih kepada tempat tinggalnya yang berada di kota tersebut, kota kelahiran saya. hehe

Orangnya bisa dibilang cerewet. Tapi justru disanalah letak kasih sayangnya pada kami. Apa saja mau dia urusi. Mulai dari kebiasaan kami yang suka berantakan, bangun siang, solat telat dan lain sebagainya. Betapa bahagianya beliau bila kami dapat berhasil.

Ia selalu mendoakan kebaikkan kami. “Mamak selalu berdoa untuk kalian. Untuk anak-anak mamak. untuk lia, ika, gema, kau (gina)”, begitulah selalu yang dikatannya ketika saya minta didoakan. ๐Ÿ™‚

Begitupun tadi, ketika saya menelpon hendak mengucapkan selamat puasa dan menanyakan kabar. Ada pesannya yang membuat saya senang sekaligus terharu… yah, walopun dulu saya termasuk salah satu anaknya yang paling pembangkang n bandel. hehe

“Kebahagiaan orang tua itu cuma 2, 1. anaknya lulus dan dapat kerja, 2. anaknya dapat jodoh. Ga ada yang lain. Ga perlu rumah gedung, mobil bagus. Cukup 2 itu kami sudah bahagia”.

Ah teman.. cobalah lihat! kebahagiaan mereka adalah kebaikkan untuk kita. Mereka tidak minta apapun selain kita bisa hidup dengan baik dan bahagia. Sederhana.

Jadi, yuk mulai berlajar memuliakan orang tua kita. ^ ^. Yang dulunya bandel, gapapa. Ayo perbaiki diri, buat mereka bahagia dengan semakin berkualitasnya hidup kita. ^ ^

Yuk, mulai belajar melihat kebaikkan dan kasih sayang orang tua kita lalu bersyukur. Bersyukur telah menitipkan kita pada orang tua seperti itu. ^ ^. Semua ada maknanya, pasti. InsyaAllah ^ ^

Wanita Hebat


Salam teman. ๐Ÿ˜€

Sekarang masuk sahur ke 2. Alhamdulillah. Semoga puasa kita berkah ya, InsyaAllah aamiin.

Tadi saya menonton video chatting dengan YM entah edisi kapan. Yang jelas sudah lama, sebab itu hasil downloadan. hehe

Salah satu bintang tamu acara tersebut adalah seorang ibu. Ia tidak hanya sebagai ibu tapi juga mengemban tugas mencari nafkah, sebab suami ibu tersebut terkena stroke, lumpuh. Ia menjadi tukang ojek, berdagang dan mencuci pakaian. 3 pekerjaan itu ia lakoni demi menafkahi keluarga.

Mencuci pake tangan loh, bukan mesin cuci. SubhanaAllah. Tidak hanya itu, ibu tersebut juga harus tetap merawat suaminya yang sudah lumpuh. Memandikan, menyuapi makan, memakaian pampers dll. Kebayang ga teman susahnya gimana?. Sudah kerja, capek, tapi tetap harus menjalankan tugasnya sebagai istri.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”. Kalimat ini selalu diulang-ulang dalam surah Ar-rohman. Coba deh compare dengan kehidupan yang udah Allah kasih ama kita. Makan enak (bisa milih pula), tidur nyaman, hidup terjamin. Jadi nikmat Allah yang bagian mana lagi yang bisa kita ingkari?

Teman, yuk berusaha tidak mengeluh. Ingatlah ibu itu dan ibu-ibu yang sama nasibnya. Sungguh sesudah kesusahan itu ada kemudahan (QS. Al-insyiroh 5-6). Adapun yang bernasib seperti ibu itu, atau sedang kekusahan, tenang aja, Allah itu ada. Allah ga akan kasih beban lebih dari kemampuan umatNya (Qs. Al-Baqarah : 286).

“saya gamau jadi mental pengemis, saya gamau jadi mental peminta-minta. Saya bersyukur masih ada otak, masih ada tenaga, apasalahnya saya jadi tukang ojek, demi anak”. SubhanaAllah. Ini dia yang namanya mental kaya. Sekarang, dari 3 pekerjaan tersebut, ibu itu mampu merawat suami dan menyekolahkan anaknya. ๐Ÿ™‚ Alhamdulillah..

Teman, yuk sama-sama belajar dari orang di sekitar kita. Siapapun dia. Jangan pandang harta dan tahtanya, sungguh itu tak berguna. Tapi pandanglah keimanan, kerja keras, keikhlasan dan keberyukuranya dalam menjalani hidup. ๐Ÿ™‚

Semoga kita kelak juga dapat setegar ibu tersebut. aamiin aamiin ya robbal ‘alamin.