Sepasang Orang Tua

Jambi, 2013-07-24

Alhamdulillaaaahhh.. akhirnya di Jambi juga. Jambi masih belum berubah. Masih dengan kesibukkan dan memori-memorinya. ^^.

Rumah juga tidak berubah. Masih sepi. Tinggal sepasang suami istri yang saling mengisi. Bapak dan mamak jambi, kami memanggilnya. Sepasang orang tua yang telah merawat saya dari SMP ini semakin renta. Guratan dan keriput tak terelakkan. Rambut yang beruban dan alis yang memutih menjadi saksi. Tidak terasa, sudah 75 tahun umur bapak dan 73 tahun umur mamak. Perkataan mereka semakin ringkih, bahkan cenderung cadel. Tapi, Alhamdulillahnya beliau berdua tetap istiqomah dalam beribadah. ^^.

Setiap hari beliau berdua selalu pergi solat ke mesjid. Hidup teratur. Kalau dulu, ketika saya masih SMP dan SMA, beliau berdua hanya ke mesjid pada solat subuh, magrib dan isya. Dan sekarang, semenjak saya kuliah, makin seringlah beliau ke mesjid. Setiap solat wajib.

Indah ya kalau suami-istri bisa saling mengisi.😀. Seperti bapak dan mamak ini. Terlepas dari segala kekurangan mereka, terlepas dari segala kecerewetan mereka memarahi saya sewaktu remaja dulu (yang sebenarnya sih demi kebaikkan saya,hhe), begitu menginspirasi saya. Sudah sejak lama saya sering mendapati mereka bermunajat disepertiga malamnya. Saling membangunkan, saling mengingatkan. Setiap hari solat berjamaah.

Bapak dan mamak jambi juga pasangan yang kompak.

Mamak cemas terhadap sakit asam urat bapak yang belakangan ini semakin sering kambuh dan bapak khawatir dengan gusi mamak yang tak kunjung sembuh. Setiap ditanya kabar, mereka akan lebih dulu memberitahukan kondisi pasangannya. Misalnya kemaren saya menelpon mamak, saya tanyakan kabarnya, dan beliau jawab, “mamak ya gitulah. Bapak tu yang asam uratnya kambuh. Banyak pantangan makannya.”. begitupun dengan bapak, ketika ditanya kabar beliaupun menjawab, “bapak ya kayak gitulah. Mamak tu yang sakit giginya ga sembuh-sembuh. Minum obat terus”.

Ehehe.. kompakkan?.

Sekarang saya semakin sadar arti sebuah pasangan. Sungguh jangan melihat parasnya. Seberapalamakah paras akan bertahan?. Jangan melihat dari hartanya, seberapa kuatkah harta membahagiakan?. Dan sungguh jangan melihat dari ketenarannya, seberapabanyakkah orang baik yang tidak terkenal?.

Tapi lihatlah hati dari kebiasaannya. Kebiasaan itu kelak yang dapat menyelamatkan kita. Baik kebiasaannya, akan baik dan bahagia pulalah kita, sedang buruk kebiasaannya, maka akan buruk pulalah perasaan kita.

Rayulah Tuhan agar memberikan kita pasangan yang hebat. Rayulah Dia dengan ketekunan dalam beribadah. Continuous Self Improvement!. Perbaikkan diri yang terus menerus. Yuk deh kita mulai sama-sama, teman.😀

Gambar
Sumber Google Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s