About Me

Collage   : Universitas Islam Indonesia

Subject   : Industrial Engineering | 2009

Old blog  : http://ghenahambali.blogspot.com

Saya adalah anak ke 4 dari 5 bersaudara. Kedengarannya seperti keluarga besar ya?. Ah kawan.. padahal rasanya tetap saja sepi. Apalagi semakin dewasa ini. Karena memang keluarga kami sudah berpencar sejak kecil. Kakak saya yang nomor 1 dan 2 sudah tinggal dengan kakak ibu saya semenjak mereka kecil (barangkali bayi). Sedang saya dan 2 saudara lainya tinggal dengan ibu dan ayah saya. Bukan apa-apa, hal ini dilakukan oleh kedua orang tua saya lantaran hidup kami masih cenderung susah. Ayah dan ibu masih membangunkan kami rumah, masih bekerja di pelosok jambi, dan merawat anak yang masih kecil-kecil sambil mencari nafkah tentu bukan perkara yang mudah bagi kedua orang tua saya, khususnya ibu.

Beranjak dewasa, kami semakin berpencar. Kakak-kakak saya ada yang kuliah di bandung dan jakarta, sementara kakak saya yang nomor 3 masuk pesantren di padang panjang. Semakin sepilah rumah. Tinggal saya dan adik laki-laki saya bersama kedua orang tua saya. Ibu saya adalah bidan dan sibuk sekali. Dulu, ingat sekali dibenak saya, saya sering kehilangan ibu pagi-pagi. “Sedang menolong orang melahirkan”, begitu yang selalu ayah katakan pada saya. Sebagai anak saya mau tak mau harus maklum dengan pekerjaan ibu, toh untuk menolong orang.😀

Ketika memasuki SMP, saya ngotot ingin sekolah di Jambi (karena rumah keluarga saya berada dikabupaten). Pikir saya, kakak saya udah pada maju, kuliah dan sekolah dikota. Masak saya masih berdiam diri di desa ini?? Saya juga mau berkembang! begitulah kira-kira pikiran saya dulu. Merayu ibu agar mengizinkan saya melanjutkan sekolah di Jambi tidaklah mudah. Berbagai cara saya lakukan untuk meyakinkan ibu.. Akhirnya, dengan berat hati ibu mengizinkan saya merantau ke Jambi dan tinggal dengan kakak ibu yang sebelumnya juga merawat 2 kakak saya. Hanya ayahlah yang waktu itu mendukung penuh keiginan saya bersekolah di Jambi. “Biar nanti dapat kuliah yang bagusnya mudah.” Kata ayah.

Jadilah saya SMP dan SMA di Jambi. Ternyata hidup terpisah bagi anak umur 12 tahun seperti saya tidaklah mudah. Acap kali saya menangis sesungukan sendirian dikamar tatkala merindukan kedua orang tua saya. Ditambah lagi peraturan kakak ibu saya yang memang disiplin dan semi militer serta sepinya rumah membuat saya semakin sedih. Namun saya ingat bagaimana beratnya ibu saya melepaskan saya sekolah jauh. Saya pikir ibu saya sudah memberikan kepercayaan pada saya untuk bersekolah jauh. Jadi saya tidak boleh mengecawakan beliau. Itulah tekad saya.

Bukan apa-apa, ibu agak berat melepas saya mungkin karena kakak saya yang masuk asrama di Padang panjang juga sering sekali merengek minta pulang, ga betah katanya. Sedang ibu juga tau kalau peraturan rumah di Jambi juga sangat ketat. Ibu takut saya tak sanggup.

Tapi saya kuat-kuat kan sajalah. Toh ini pilihan saya. Hampir 2 tahun saya selalu diam-diam menangis di kamar. Rasa sepi itu selalu membuat saya sedih. Sementara merengek-rengek pada ibu tak mungkin saya lakukan. Ini pilihan saya. Begitu selalu dalih saya pada diri sendiri. Setiap saya sedih, saya selalu menghitung-hitung akan berapa lama lagikah saya tinggal di rumah yang penuh aturan ini. Semakin sedikitnya waktu membuat saya semakin kuat. Atau lebih tepatnya dikuat-kuatkan. hehe

Dan sekarang, TARAAAAA… Inilah saya! Berhasil melewati masa-masa sulit itu. hehe🙂

Kakak ibu saya adalah orang yang baik, ia menyayangi saya. Sudah begitu banyak pengorbanannya untuk keluarga kami, untuk pendidikan adik-adiknya (termasuk ibu saya). Jadi wajar Ia bersikap tegas, disiplin dan keras dalam mendidik kami. Tidak, Ia tidak pernah memukul apalagi menganiaya saya. Hanya saja keharusan menjaga kamar harus selalu rapi, makan tepat waktu (hampir setiap malam ia masuk kekamar dan menanyakan apa saya mau makan malam? dan hampir selalu saya tolak tawaran itu), belajar setiap malam, tidak boleh nonton kecuali malam minggu, hampir membuat saya frustasi. haha (maklum, namanya juga anak-anak).😛

Rasanya beruntung sekali bisa dididik oleh mamak dan bapak jambi (begitulah kami biasa menyapanya). Semoga sehat selalu ya pak.. mak.. Maafin kesalahan-kesalahan gina.. Makasih ya bu..yah.. atas kepercayaannya menyekolahkan gina sampai sejauh ini.. InsyaAllah doa gina selalu mengiringi kalian.. Aamiin.🙂

Dan berkat sudah terlatihnya saya hidup jauh dari kedua orang tua saya itulah akhirnya saya tak terlalu merasa sedih ketika harus berkuliah di pulau seberang. Disaat banyak teman yang menangis harus berpisah dengan orang tuanya, saya justru antusias ingin memasuki kehidupan yang lebih berwarna dan menantang.😀

Salam kehidupanku, semoga berkah ya.. aamiin ^^

I love you, My family..❤

4 thoughts on “About Me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s