Selamat Ulang Tahun, Ibu


Selamat berulang tahun yang ke 58 tahun, ibuku. Diusia senjamu, engkau masih merawatku dengan sangat baik, aku sangat bersyukur. Tidak ada kata selain ucapan Alhamdulillah. Bahwa Tuhan telah menganugrahkan engkau sebagai ibuku adalah sebuah keberuntungan dalam hidupku.

Suatu kali ibu bertanya padaku, “Entah bagaimana besok anak-anak ibu merawat ibu”, tatkala kita sedang menyiapkan perbekalanku pulang ke jogja. Saat itu aku hanya bisa tersenyum bu. Setiap waktu terselip doa, ” Ya Tuhan, izinkan aku merawat kedua orang tua ku ketika mereka sudah tua, lebih dari mereka merawat aku ketika kecil”. Begitulah bu. Semoga niat gina dijaga dan diijabah olehNya. 🙂

Di usiamu yang ke 58 tahun, engkau masih terlihat sangat muda bu. Tetap cantik. hehehe. Semoga panjang umur ya bu.. umur yang berkah lagi bermanfaat, diberi kesehatan dan kekuatan untuk beribadah sampai maut menjemput. Dilancarkan segala urusan dan menjadi wanita yang dirindu syurga, aamiin. InsyaAllah.

Aku menyayangi mu, bu.

Gambar
Love

Bungo, 10 Agustus 2013

Advertisements

Mamak Jambi


Mamak jambi. Begitulah kami memanggilnya. Bukan karena namanya “jambi” tapi lebih kepada tempat tinggalnya yang berada di kota tersebut, kota kelahiran saya. hehe

Orangnya bisa dibilang cerewet. Tapi justru disanalah letak kasih sayangnya pada kami. Apa saja mau dia urusi. Mulai dari kebiasaan kami yang suka berantakan, bangun siang, solat telat dan lain sebagainya. Betapa bahagianya beliau bila kami dapat berhasil.

Ia selalu mendoakan kebaikkan kami. “Mamak selalu berdoa untuk kalian. Untuk anak-anak mamak. untuk lia, ika, gema, kau (gina)”, begitulah selalu yang dikatannya ketika saya minta didoakan. 🙂

Begitupun tadi, ketika saya menelpon hendak mengucapkan selamat puasa dan menanyakan kabar. Ada pesannya yang membuat saya senang sekaligus terharu… yah, walopun dulu saya termasuk salah satu anaknya yang paling pembangkang n bandel. hehe

“Kebahagiaan orang tua itu cuma 2, 1. anaknya lulus dan dapat kerja, 2. anaknya dapat jodoh. Ga ada yang lain. Ga perlu rumah gedung, mobil bagus. Cukup 2 itu kami sudah bahagia”.

Ah teman.. cobalah lihat! kebahagiaan mereka adalah kebaikkan untuk kita. Mereka tidak minta apapun selain kita bisa hidup dengan baik dan bahagia. Sederhana.

Jadi, yuk mulai berlajar memuliakan orang tua kita. ^ ^. Yang dulunya bandel, gapapa. Ayo perbaiki diri, buat mereka bahagia dengan semakin berkualitasnya hidup kita. ^ ^

Yuk, mulai belajar melihat kebaikkan dan kasih sayang orang tua kita lalu bersyukur. Bersyukur telah menitipkan kita pada orang tua seperti itu. ^ ^. Semua ada maknanya, pasti. InsyaAllah ^ ^

Malu-Malu Kucing


Gambar
Sumber : Google Image

Pengennya A, yang keucap B. Itulah malu-malu kucing. Malu-malu tapi pengen. Malu-malu tapi mau.

Coba ingat-ingat, ketika kita ke rumah sodara, disuguhin makanan tuh. Nah, udah disuruh jabanin nih, otak bilang “ayo, ambil-ambil.. kue itu enak loh”. Tapi hati bilang, “jangan ah.. ga enak. yang laen pada diem. belum ambil. malu dong”.

Ditawarin sekali lagi, si otak langsung sorak-sorak, “Tuh kan.. ayo ambil ambil., rugi loh. ntar ngimpi di dirumah”. Hati bilang,”Ntar dulu laaaahhh.. yang laen aja pada belum jabanin. masak ente duluan”. Akhirnya tangan tertahan, mulut terkatup tapi mata fokus memandang si kue, tak berkedip. Galau, ragu, biru, kelabu. wahah

Dan akhirnya orang lain bergerak duluan. Ketika kita hendak mengambil kue terakhir, rupanya gerak si teman lebih cepat. Yah, apes deh.

Semoga hal seperti itu tidak terulang lagi. Tidak untuk kali ini. Aaamiin. ^ ^

Gambar
Sumber : Google Image

Uniknya Pertemanan


Assalammu’alaikum wr.wb..

Semoga teman-teman sekalian sehat wal afiat ya.. aamiin 😀

Kali ini saya ingin membahas tentang pertemanan. Betapa uniknya ia. Siapa didunia ini yang tidak membutuhkan teman ataupun tidak suka berteman?. Kalau ada orang seperti itu, rasanya menyedihkan sekali. Sebab sejatinya, kita ini mahluk sosial. ^ ^

Kita tidak akan pernah bisa berdiri sendiri. Kita pasti membutuhkan orang lain. Dan kita pasti butuh berteman.

Menurut saya berteman ini pun ada tingkatannya. Ada yang berteman biasa, berteman dekat/bersahabat, atau berteman tapi sudah dianggap seperti saudara.

Dulu sekali saya sering mengkategorikan teman-teman saya pada 1 dan 2. Kalau tidak sahabatan ya berarti teman biasa.

Kami bersahabat kental sekali. Sampai-sampai ketika kami tidak bersama sehari saja teman-teman akan langsung tahu dan akan menebak-nebak, ‘apakah mereka marahan?’.

Yah begitulah. Suatu ketika terjadi masalah. Yang rupa-rupanya tertahan sejak lama. Sifat cuek saya membuatnya sedih dan tidak nyaman. Ampun. Saya benar-benar tidak merasa saya cuek. Dan saya merasa ia seorang yang egois. Impas sudah.

Berjauhan dengannya terasa neraka bagi kehidupan akhir masa SMP saya. Sedih ga karu-karuan. Bahkan bisa dibilang rasa sedihnya melebihi rasa putus cinta saya dulu. haha

Bila buku catatan masa SMP saya dibuka kembali, terlihatlah sudah semua kesedihan itu. Semua saya curahkan padanya. Saya yang merasa dilupakan, dikecewakan, takut kehilangan dan sebagainya.

11 Maret 2006 kami berbaikkan. Ingat betul saya, karena tanggal itu saya abadikan pada buku catatan kerokeropi. hehehe. Lega bukan kepalang, bahagia.

“Ah.. Untunglah semua sudah berakhir.. dan aku pun lega, ternyata dia menangisiku. Ternyata dia tak se-egois yang ku pikirkan. Dia tidak membiarkanku menangis sendirian. Huehehe. Ternyata tetap sehati”.

Begitulah bunyi catatan tersebut. :’)

Kami berbaikkan. Namun karena sekolah kami terpisah, akhirnya kami tak sedekat dulu lagi.

Memasuki masa SMA, saya tidak ingin memiliki sahabat. Semua teman saya masukkan pada kategori satu. Teman biasa. Tidak lebih.

Apakah itu membuat saya bahagia?. Ah teman. Ternyata juga tidak. Sering kali dulu saya mendapati diri saya termenung dijendela sambil berfikir, “ah, ga ada sahabat”. Lalu diam-diam ada yang menetes.

Maksut hati ingin menjaga perasaan hati agar kejadian seperti dulu tidak terulang kembali. Betapa tidak nyamannya bermusuhan dengan orang yang kita sayang dan sudah hampir 2 tahun lebih selalu bersama.

Dan begitulah kehidupan SMA saya. Berteman random. Tidak terlalu dekat, tidak pula terlalu jauh. Biasa-biasa saja.

Sampai suatu kali, dipenghujung masa SMA, saya memasuki IPA 3. Kekeluargaan dikelas ini terasa sekali. Kompak. Buat saya nyaman dan bahagia.

Disana saya mulai berfikir, kenapa pertemanan ini tidak kita anggap sebagai hubungan kekeluargaan saja?. Akan bertahan lebih lama dan lebih membahagiakan menurut saya.

Teman, cobalah lihat sebuah keluarga. Pasti seringkali berpencar. Begitupun dengan keluarga saya. Ketika kami kecil saja keluarga kami sudah berpencar. Ada yang di jambi, di padang, di jakarta dan ada pula yang di bandung. Berkumpul paling komplit hanya pada saat lebaran.

Dan apakah hubungan kami terputus?. Tentu saja tidak teman. Minimal masih saling kontak, walau hanya 6 bulan sekali. Minimal masih tahu kabar berita. Dan seminimal-minimalnya masih saling mengingat. Karena kami kan keluarga. hehe

Itulah yang saya tanamkan dalam diri saya kini. Bila sudah dekat dan sayang, saya lebih senang menganggapnya sebagai keluarga saya. Saudara saya. Sehingga ketika terjadi masalah atau sama-sama sibuk, silaturahmi kami tetap terjaga. Minimal dihati masing-masing.

Sekarang tidak ada lagi rasa sedih karena pertemanan itu. Ah, begitulah perteman ya teman. Sangat unik sekali. Banyak rasa yang ditimbulkan olehnya. ^ ^ Alhamdulillah.

GambarHanya saja ingatlah selalu pesan baginda Rasulullah yang indah dan mulia ini,

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Hallowen


Hallowen

Kali ini nama masakkannya adalah Hallowen. Kenapa? Yah, tentu saja bisa ditebak teman. Gambarnya mengerikan. Hehe

Beberapa teman saya menyangka bahwa ini adalah nasi goreng. Tapi sebenarnya bukan. Ini nasi rendang!

Kemarin saya masak nasi kebanyakkan. Sehingga bersisa sampai hari ini. Saya pikir daripada dibuang (karena nasinya hampir keras) lebih baik dimasak ulang. Tidak lupa kasih sedikit air (dibagian yang hampir keras).

Jadi Alhamdulillah masih bisa dimakan. hehe.

Jangan mudah buang-buang makanan. Banyak diluar sana yang untuk makan sehari aja susah, apalagi buat besok. Makanya saya suka kesal kalo liat orang mudah buang-buang makanan. T_T

Cara memasaknyapun cukup mudah teman. Tinggal bawang,cabe, diulek jadi satu dan tidak lupa tambahi sedikit garam. Masak, campur nasi. Selesai. hehehe.

Jangan lupa semboyannya, “Cepat saji dan simple”. 😀

Inginnya Ibu


Siang ini tiba-tiba si ibu menelpon. Ini kejadian langka!

Sangat jarang kami telpon2an. Atau jikapun menelepon memang lebih sering tentang masalah2 yang jelas dan urgent. Misal, ketika saya ingin meminta uang kuliah atau saya ingin pulang ke Jambi.

Namun agak berbeda dengan hari ini. Kami telpon2an tanpa 2 hal diatas. 😀

Barangkali karena ibu tidak sedang di istananya (baca : rumah). hehe. Kalo lagi di rumah. Wah. Jangan tanya. Beliau akan sibuk sekali. Kalau tidak mengobati pasien, ya mengurus ladangnya. Atau jika tidak, sibuk memasak ataupun kegiatan ibu-ibu PKK. Pokoknya super sibuk. Sehingga sering telpon saya ga diangkat atau dimatikan dengan cepat. haha

Sekarang saya mendapatkan semangat baru untuk mengerjakan TA. Semua karena inginnya ibu. Sangat jarang beliau meminta sesuatu pada saya. Apalagi menyangkut hidup saya sendiri.

“Gina sudah dewasa. Hidup Gina, Ginalah yang tau mana yang terbaik. Gina perempuan, harga diri ga bisa di beli. Ibu hanya bisa mendukung, berdoa dan membantu semampu ibu”. Begitulah nasehatnya.

Jadi bisa diartikan ketika beliau sudah berkata, itu artinya memang keinginan yang jauh datang dari lubuk hatinya. hehehe

Sewaktu di telpon tadi akhirnya si ibu bertanya lagi kapan saya hendak lulus?.

Saya bingung. Saya katakan saya takut memberi harapan. Dan ibu hanya tertawa-tawa.

Ibu bilang, “rasa-rasanya jogja itu udah deket banget ama ibu. Rasa-rasa mau kesana bentar lagi. Udah kebayang-bayang”.

Saya hanya tertawa. Mengerti maksutnya ibu.

Ibu juga mengingatkan saya kalo agustus besok beliau ulang tahun.

“Bisa loh kadonya kelulusanmu”. Candanya. Canda yang mengena. hehe

Ibu juga menanyakan saya mau bekerja apa sehabis ini?.

Lagi-lagi saya bingung. Bingung bukan karena saya tidak punya rencana. Tapi bingung gimana cara mau menjelaskan rencana saya. haha

Lalu saya tanya kan saja, “Ibu maunya gimana? Pekerjaan yang ibu ridhoi untuk Gina apa?”.

“PNS di Jambi”. Jawab ibu mantap.

“Jangan kerja di jakarta. Ruwet. Kentut aja bayar”. Tambahnya.

Saya terkekeh.

“Lalu apa lagi?”. Tanya saya.

“Kerja apa aja boleh, memang ga harus PNS. Asal jangan di Jakarta. Di Jogja boleh. Di Bandung boleh”.

Begitulah ibu. Stright to the point. No basa-basi.

Ibu bilang,

“Kalo kita sudah usaha, Allah pasti kasih rezeki. Jadi gausa takut. Ibu aja yang walaupun PNS bisa menyekolahkan anak ibu sampai tinggi-tinggi. Gina bisa sampai ke Jogja”.

“Yang penting itu, hidup punya tempat berteduh. Baru selanjutnya pikirkan sandang dan pangan”. Tambahnya.

“Gina harus tau untuk apa waktu sisa Gina. Pergunakan sebaik-baiknya”. Pungkasnya.

Itulah inginnya ibu. Yang kesemuanya memang untuk kebaikkan saya sendiri. ^ ^

Sebenarnya saya khawatir. Takut membuat ibu kecewa.

“Biasanya kalo ibu yang pengen, Allah turun tangan kok. Tenang aja”. Kata seorang sahabat saya. Yang bisa langsung menenangkan saya. hehe

Aamiin.. Ya Allah..

Mari teman, SEMANGAT! Membahagiakan orang tua.. ^ ^

Teyur


Teyur

Teyur = Telor Sayur. Hehehe. Maksa ya? Ya begitulah. efek belum betah masak lama- lama. Maunya cepat saji dan simple.

Em.. atau barangkali memang belum banyak resep masakan yang dikuasai. hahaha

Ini adalah telur campur sayur kangkung. Ntah sudah ada orang yang masak masakkan ini atau belum. Bumbunya simpel saja. Cukup bawang merah, bawang putih, garam dan cabai. hehe

Karena saya yang memasak dan saya pula yang mencicipi, jadi masakan ini enak. wekekeke.

Bagi teman-teman yang belum terlalu mahir memasak (seperti saya) juga bisa mencobanya. Barangkali saja suka :D.

Masalah gizi, yah, saya juga belum tahu. hehehe. Yang jelas cukup mengenyangkan.

Masalah takaran bumbu juga saya tidak tahu. Kalo ibu saya bilang, “Masak itu pake perasaan”. hehehe

Godaan Skirpsi


Gambar

Sumber : Google Image

Salam sodara-sodari.

Kali ini tema kita tetap skirpsi. Godaan skripsi.

Dulu, ketika masih kuliah semester 1-6 saya bingung. Kenapa orang-orang bisa lama banget ngerjain skripsinya. Atau kenapa orang-orang banyak beralasan ketika mengerjakan skripsinya. Misal, “iya e, kemaren vakum dulu ngerjainnya”, “biasa, kemaren menghilang dulu dari dunia skripsi. Ini baru comeback”, “malasnya poll mau ngerjain skripsi”, atau “lagi sibuk usaha, jadi skripsi entaran aja. Udah bisa cari duit juga”.

Dan segudang alasan lainnya.

Sekarang barulah saya mengerti kenapa mereka berkata seperti itu. Sejak dulu, ketika saya bosan dengan kegiatan sehari-hari, biasanya saya akan beralih melakukan hal-hal yang saya sukai. Mulai dari membuat handmade, menonton film sampe mabuk, membaca buku sampai muntah atau sekedar tidur dikamar.

Misalnya beberapa tahun yang lalu, saya tiba-tiba saja sedang giat-giatnya membuat tas dari celana/rok jeans bekas. Belajar menjahit sampai larut malam.

Kakak saya sampai menertawakan saya karena hal itu. “Kenapa kau gin? Mabuk?. Dari pagi sampe tengah malam gini ga brenti-brenti”.

Saya –> Cengengesan. hehe. Bingung mau jawab apa.

Lalu hobi menjahit saya pun memudar dengan seiring berjalannya waktu (barangkali karena dijogja saya belum punya mesin jahit, hhe).

Pernah juga, suatu kali saya tiba-tiba jengah dengan rutinitas. Lalu memutuskan untuk ke toko aksesoris untuk membeli beberapa peralatan dan bahan untuk membuat gelang. Buat dan jual. Yah, lumayan, minimal ga rugi-rugi amat. hehe

Lalu hobi itupun menghilang. Saya kembali hanyut pada rutinitas.

Itulah mengapa kemudian saya sebut ia sebagai “Hobi Musiman”, hhe.

Nah, sama hal nya dengan skripsi ini. Waktu luang yang lumayan banyak (karena ga ada kuliah maupun tugas dari dosen), membuat hobi-hobi lama saya itu bangkit kembali.

Mulai dari awal surat skripsi saya turun, saya sudah mulai getol membuat pernak-pernik dari kawat dan permata, kotak sedekah kain flanel, menonton video debat, bross kain flanel sampai belajar ketoko aksesoris untuk membuat pernak-pernik dari kawat tersebut.

Waktu saya habis. Tercurahkan untuk hobi musiman.

Lalu skripsi?. Yah… begitulah. Saya anak tirikan.

Godaan skripsi ini ga hanya sampai disitu.

Bahkan ketika saya sudah berniat dengan sungguh-sungguh ingin mengerjakan skripsi diperpus, saya malah bertemu teman saya. Dan akhirnya?. Yah, bisa ditebak. Dari 8 jam saya diperpus, 1-2 jam nya malah saya habiskan untuk mengobrol dengan teman saya tersebut. Saya tunjukkan padanya video debat yang sedang saya gandrungi sekarang. hhe

Ketika kemarin juga saya sudah berniat mengerjakan skripsi diperpus pada sore hari, ternyata ada jadwal training di lab.

Nah.. Godaan skripsi ini ternyata banyak sekali macamnya.

Termasuk pagi ini. Padalah tadi malam saya sudah berancang-ancang ingin mengerjakan skripsi setelah solat subuh. Dan ternyata saya malah tergoda untuk menulis.

Ah teman.. Sekali lagi saya ingatkan, godaan skripsi itu banyak sekali macamnya. Belajar menguat-nguatkan niat, bernilai tinggi!.

Jadi inget pesennya mbah Bukhari..

waktuluang

Sumber : Google Image

Hehe. Ngena banget yak..

Jadi,

Contoh Proposal Skripsi

Sumber : Google Image

Monggo dijawab masing-masing, hehe.