Bagaimana Agar Hidup Diurus Allah


Kawan, bukankah enak kalau hidup ini Allah aja yang urus? Diserahin ke Allah. Pasrah, tapi bukan berarti tidak berikhtiar.

Seringkali kita menghindari masalah. Padahal masalah dibuat agar kita selalu ingat dan mendekat padaNya. Sama halnya dengan ujian dikampus. Pernahkah dosenmu memberikan ujian yang soal-soalnya dapat membunuhmu? atau membahayakanmu?. Bukankah ujian-ujian kampus itu membinamu untuk mejadi mahasiswa/i yang lebih baik?.

“Orang sengsara bukan karena masalahnya, tapi orang-orang sengsara karena salah menyikapi masalah tersebut.”

Untuk itu, diperlukannya beberapa resep untuk menghadapi hidup.

1. Siap menghadapi yang cocok dan siap menghadapi yang tidak cocok.

“Keinginan harus, ikhtiar wajib, tetapi tidak harus terjadi apa yang kita inginkan”. (Qs. Al-baqarah : 216)

sebab tugas kita hanyalah 2, pertama meluruskan niat, kedua menyempurnakan ikhtiar. Masalah hasil ya suka-suka Allah..

2. Harus ridho dengan apa yang sudah terjadi.

Terima aja dulu apa yang ada, disyukuri, sambil terus ikhtiar lebih baik.

“Kebanyakan orang menderita bukan karena kenyataan, tetapi karena tidak menerima kenyataan”.

Allah pun sudah mengingatkan kita,

Maha suci Allah yang menguasai (segala kerajaan) dan Dia kuasa atas segala sesuatu yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa diantara kalian yang lebih baik amalannya. Dan Dia Maha Perkasa dan Maha Pengampun.” (Al Mulk : 1-2)

“Dan Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”(sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Rabbnya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-Baqarah : 155-157)

Dari suhaib RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Sungguh menakjubkan perkara orang-orang beriman, karena segala urusan baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat selain pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa itu yang terbaik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, (karena ia mengetahui) bahwa hal tersebut terbaik bagi dirinya”. (HR.Muslim)

Jadi, kejadian apapun harus menjadi bahan penyempurnaan untuk ikhtiar kita.

“janganlah kita berkata ‘kalau tau gini.. kalau tau seperti itu mending..'”, sebab itu akan mengurangi rasa syukur.

3. Jangan memusuhi diri sendiri

“syukuri keadaan apapun dan jalani. Jika berhasil melakukan kedua hal tsb, maka In Syaa Allah Allah akan menambah nikmatNya untuk kita”.

“Masalah itu tidak berbahaya, yang bahaya itu cara menyikapi masalah”.

“Bahwa semua masalah yang menimpa kita sudah diukur sama Allah”. (Qs. Al-Baqarah : 286).

4. Evaluasi diri

Kebajikan apa pun yang kamu peroleh adalah dari sisi Allah dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada seluruh manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.” (Qs. An-Nisa : 79)

Jadi jangan menyalahkan orang lain. Introspeksi diri. Sebab, menyalahkan orang lain hanya membuat tumpul kemampuan memperbaiki diri.

“Kita harus berani menghadapi hidup ini tanpa didramatisir. syukuri dan jalani”.

“hidup ini sederhana, hidup itu simple, yang rumit itu bila hidup sudah bercampur dengan keinginan ditambah nafsu. maka kendalikanlah kenginan dan nafsu.”

5. Cukuplah Allah sebagai penolong kita

Dan inilah termasuk salah satu doa Rasulullah, hendaknya dibaca pagi dan sore hari.

“Yaa Hayyu Yaa Qoyyuum birahmatika astagiits…ashlihlii sya’nii kullahuu walaa takilnii ilaa nafsi thorfata ainin”

artinya:

“Wahai Dzat Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri dengan sendiri-Nya, dengan rahmat-Mu aku mohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata.” (HR. Al-Nasai dalam al-Sunan al-Kubra, Al-Bazzar, dan Al-Hakim dan ia menyatakan sahih sesuai syarat muslim. Dishahihkan Al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah, no. 227)

Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)“. (Qs. Al-Kahfi :10)

Jadi janganlah bersandar pada manusia. Itu hanya akan menambah masalah.

“Pilih saja apa yang paling disukai Allah. In Syaa Allah hidup akan semakin tenang”.

Dan inilah rumusnya, 3M

1. Mulai dari diri sendiri

2. Mulai dari yang kecil

3. Mulai dari sekarang.

Jadi yuk kita coba, kawan.

-Sumber tulisan : Ceramah aa gym-

Ternyata


Ternyata, tidak bersyukur pada yang sedikit, dan terus mengingat doa yang berlum terkabul itu sangat merisaukan. Tidak nyaman.

Ternyata, terus membandingkan apa yang telah didapat dan membandingkan apa yang didapat orang lain itu sangat menyiksa. Menyedihkan.

Ternyata, terus memikirkan masa lalu lantas menyesal hanyalah sia-sia. Bodoh.

Ternyata, sedikitnya mengingat Allah membuat hati tidak tentram. Sadar.

Ternyata, menyimpan malas membuaramkan masa depan. ingat.

Ternyata, mementingkan nafsu menjerat jiwa. ingat,

Ternyata, ternyata.. ternyata,,…

 

Ternyata, Penyakit hati itu berbahaya sekali.

Surga dan Neraka


Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (Adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan). Dan adapun bagi orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan (pahala) yang baik, maka akan kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan). Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa.”

(QS. Al-Lail [92] : 5-11)

Ketika membaca surat ini pagi tadi, saya mendadak ingat pernah dulu seorang teman bertanya pada saya,

“Apakah surga dan neraka itu ada?. Kalo surga ga ada, apa kamu masih sembahyang?”.

Saat itu saya masih belum tau jawabannya. Masih bingung harus jawab bagaimana. Kala itu saya hanya menjawab, “Harus”. Tanpa saya tahu pasti alasannya kenapa. Barulah kemudian, ketika sudah semakin bertambahnya umur, saya memahami.

Bahwa kita harus tetap menyembah Allah, solat. Walaupun surga dan neraka itu tidak ada. Sebagai bentuk rasa syukur kita pada-Nya, Sang Pencipta. Bahwa kita sudah diciptakan sebagai mahluk paling sempurna, memiliki akal untuk berfikir, diberi rezeki, petunjuk, udara, dan lain sebagainya. Yang bahkan jika air laut dijadikan tinta untuk menuliskan semua kebaikkan Allah, ditambah lagi dengan air laut sebanyak itu, tidak akan habis nikmat Allah (Qs. Al-Kahfi [18] : 109). SubhanaAllah.

Dan surat Al-lail di atas sungguh mengingatkan saya, bahwa kita harus percaya surga itu ada. Bahwa Allah tidak mungkin bohong dengan janji-Nya. Maka selayaknya pertanyaan “Jika surga dan neraka tak pernah ada, apakah kita masih menyembahNya?” itu dihapus. Jangan sampai Allah memudahkan kita dalam kesulitan memahami islam. :’)

Sungguh, kami telah berulang-ulang menjelaskan kepada manusia dengan bermacam-macam perumpamaan didalam Al-qur’an ini. Dan manusia adalah mahluk yang paling banyak membantah“.

(Qs. Al-Kahfi [18] : 54)

Ramadhan dan Bermegah-Megahan


Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu
2. Sampai kamu masuk ke dalam kubur
3. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)
4. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui
5. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin
6. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim
7. dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin
8. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)

(QS. At Takaatsur: 1-8)

Ga terasa ya teman-teman, sebentar lagi Ramadhan tiba, bulan paling mulia dalam islam. Dimana segala amalan baik dijadikan pahala berlipat ganda oleh Allah SWT. Allah humma solli’ala sayyidina Muhammad, waala ali sayyidina Muhammad.

Pada bulan Ramadhan ini, para seitan diikat, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka selebar-lebarnya. Ini kesempatan!. Kesempatan kita panen keridhoan Allah, kesempatan kita untuk menjadi lebih baik dimata Allah, kesempatan buat kita untuk menghapus dosa dan panen pahala, kesempatan buat kita untuk jadi hambaNya yang bertaqwa, kesempatan buat kita untuk layak mendapatkan surga, dan kesempatan bagi kita untuk membiasakan diri beramal solih 🙂

Namun sayangnya, sering kali kita lebih tertarik dan bersemangat dengan hari perayanya daripada bulan Ramadhannya. Coba deh kita liat ke dalam diri kita sendiri. Rasanya kita lebih banyak mempersiapkan diri ntuk keperluan lebaran. Misalnya membeli pakaian lebaran, sepatu lebaran, make-up lebaran, jilbab lebaran dan segala sesuatu yang berbau lebaran.

Coba bandingkan dengan persiapan kita menghadapi bulan Ramdhan. Sudahkah kita berlatih puasa di hari senin dan kamis? atau puasa putih (setiap tanggal 13,14,15 kalender islam)? atau memperbanyak puasa dibulan sya’ban?. Rasa-rasanya saya bisa menjawab hampir pasti tidak!. Banyak dari kita, -termasuk saya sendiri- lebih banyak mempersiapkan diri untuk lebarannya daripada Ramadhannya.

Sebenarnya tidak salah juga bersemangat di hari raya lebaran. Hanya saja jangan sampai berlebihan. Ga mesti semuanya baru dari ujung kaki sampe ujung rambut. Cukup bersih dan tidak kucel. hehe

Yuk deh teman-teman, janganlah kita bermegah-megahan di dunia ini. Janganlah kita terlalu bermegah-megah dihari raya lebaran sehingga lupa akan estetika lebaran yang sesungguhnya. Yaitu saling bersilaturahmi, bermaaf-maafan dan kembali fitri.

Ingatlah selalu QS. At Takaatsur: 1-8 ini. Bahkan kita dilarang bermegah-megahan ini sampe 3 kali. Saking bahayanya.

Yuk deh, sama-sama saling mengingatkan :D.

Salam hangat ya teman. ^ ^

Faktor Sukses


Mengapa ada orang yang menganggap sesuatu hal itu terasa sulit sekali, sementara dilain pihak ada orang yang menganggapnya sangat mudah sekali.

Memang sulit dan mudah tergantung orangnya ya.

Sebenarnya jadi mikir, apa iya ga ada yang sulit didunia ini kalau kita mau berusaha lebih keras dari orang lain?. Sedang untuk membangkitkan semangat itu saja sudah sangat melelahkan.

Banyak faktor yang menyebabkan orang sukses. Bisa karena keluarga, pasangan, atau diri sendiri. Dan faktor manakah yang lebih baik?.

Menurut saya diri sendiri. Orang tua dan pasangan jadikan faktor pendukung. Jadikan mereka batang dan daun sedang diri kita akarnya.

Akar tanpa batang dan daun juga tidak indah. Apalagi batang dan daun tanpa akar. Mati.

Sekarang masalahnya hanya bagaimana cara meguatkan akar ini. :’)

Anehnya Pertemanan


Gambar

Assalammu’alaikum teman :D.

Kali ini saya ingin bercerita tentang betapa anehnya sebuah pertemanan itu.

Ya, aneh menurut saya. Karena kita cenderung baik didepan, tapi menjelek-jelekkan dibelakang.

Beberapa hari yang lalu saya mendengarkan curhatan seorang saudara tentang temannya. Betapa tidak tahannya ia akan sikap salah satu teman dekatnya.

Berbulan-bulan yang lalu pun saya mendapati diri saya terjebak pada situasi ini. Segerombolan wanita berbicara tentang kejelekkan teman wanitanya yang lain ketika si orang yang sedang dibicarakan itu tidak bersama kami.

Dan ketika saya pulang kampung pun saya masih mendapati fenomena yang aneh itu. Saudara saya yang berteman baik dengan seorang temannya ternyata tidak begitu menyukai sahabatnya tersebut. Saling sengit bila dibelakang.

Sungguh aneh. Mengapa kita terkadang baik didepan tapi membuka-buka aib mereka dibelakangnya?. Barangkali pertemanan jenis ini bukanlah teman/sahabat sejati seperti yang orang-orang katakan.

Dan mungkin itulah sebab mengapa kita dinasehati lebih baik diam ketika tidak mampu berkata baik.

Yuk jaga lisan kita, teman. Jangan sampai jadi boomerang dihari akhir kelak.

Semoga hidup teman-teman sekalian selamat dunia akhirat. aamiin.

Salam

Rumus Menguasai Ilmu


Assalammu’alaikum, teman.

Semoga kita semua dalam lindungan dan keridhoan Allah, aamiin.

Pagi ini saya menonton kembali ceramah ust. Felix Siaw tentang Habits. Kebiasaan. Betapa seringnya saya mengeluh akan ketidakbisaan saya tentang sesuatu hal. Yang solusinya -sebenarnya- hanya tentang pembiasaan.

Dulu, sewaktu SMA saya sering sekali ujian remediasi fisika. Setiap remediasi selalu merasa tidak kesepian. Karena memang yang remediasi biasanya 1 kelas minus 1-5 orang. hehehe

Setelah saya ingat-ingat, ujian remediasi rasanya selalu lebih mudah dari ujian pertama. Walaupun soal berbeda tapi pada dasarnya cara pengerjaan soal itu sama saja. Kalau tidak beda angka paling juga bolak-balik rumus.

Ini terbukti dengan nilai saya yang naik setelah remediasi! :D. Misalnya dari 40 menjadi 55. Yah, lumayan kan? yang penting naik. hehehe

Barulah sekarang saya tahu, rupanya nilai yang naik itu karena pengulangan mengerjakan soal ujian fisika yang saya lakukan.

Teman-teman pernah mengikuti ujian SPMB? atau UMPTN? atau yang sejenisnya?. Ikut bimbel untuk SPMB? cobalah perhatikan apa yang mereka (guru bimbel) ajarkan.

Setiap pertemuan mereka hanya membahas tentang soal-soal terdahulu. Trik bagaimana menjawab soal serta pengulangan-pengulangan menjawab soal yang sebenarnya sama. Tanpa membahas rumus secara keseluruhan apalagi membahas asal-muasal rumus.

Artinya, untuk lulus ujian SPMB atau UMPTN kita perlu mengulang-ulang menjawab soal ujian tersebut. Dengan terbiasa kita bisa.

Kita orang Indonesia, maka kita bisa bahasa Indonesia. Orang Inggris pasti bisa bahasa Inggris, orang Cina tentu bisa bahasa CIna, orang jepang pasti mahir bahasa jepang, orang arab pasti faseh berbahasa arab dst..

Kenapa begitu? karena kita terbiasa menggunakan bahasa ibu kita dari dahulu. lagi-lagi karena kebiasaan. ^ ^

Jadi ketika kita sudah biasa maka InsyaAllah bisa.

Kalo katanya ust. Felix Siaw itu,

Latihan + Repitisi = Habits. :). Latihan dan pengulangan akan menjadikan kita terbiasa.

Jadi teman, apa keahlian yang ingin kalian kuasai? ayo latihan dan ulang-ulang terus. Maka InsyaAllah bisa. 😀

InsyaAllah. ^ ^

Dan ingatlah pesan Imam Syafi’i,

Hai saudaraku, kalian tidak akan dapat menguasai ilmu kecuali dengan 6 syarat yang akan saya sampaikan. Yaitu dengan kecerdasan, bersemangat, kesungguhan, dengan memiliki bekal (investasi), bersama pembimbing, serta waktu yang lama“.

(Asy-Syafi’i)

Sebenarnya ilmu disekeliling kita itu banyak sekali teman, tinggal mau mengambil dan menerapkanya atau tidak. Jangan sampai menyesal. Yuk terapin sama-sama 😀

Gambar
Sumber : Google Image

salam.

Be a Mother


GambarSumber : Google Image

Setelah diliat-liat lagi, dicoba-coba untuk paham, pekerjaan sebagai ibu sungguh sulit.

Harus banyak persiapan. Harus banyak pengetahuan. Contoh minimal pengetahuan tentang merawat anak.

Beberapa hari yang lalu saya pergi menjenguk seorang dosen yang baru melahirkan.

Di rumahnya saya melihat banyak buku tentang anak. Mulai dari merawat anak yang masih dalam kandungan sampai anak sudah lahir. Semua detail didalam buku-buku tersebut.

Misalnya, ketika anak tersedak, apa yang harus dilakukan seorang ibu. Ketika anak menangis, ibu harus mengerti apa yang diingini anak. Ketika anak mulai balita dan tumbuh gigi apa yang harus ibu perbuat (karena biasanya pada anak kecil yang baru tumbuh gigi pertamakalinya akan terasa sangat gatal sekali digusinya). Ketika si anak tidak mau makan apa strategi ibu untuk menghadapinya.

Sampai masalah besar misalnya seperti si anak ternyata tidak pernah mau melihat mata lawan bicaranya, asik dengan dunia/mainannya sendiri, hanya bisa memahami/mengulang kata yang itu-itu saja yang kemudian dalam dunia psikologi penyakit ini disebut sebagai Autistic Spectrum Disoder.

Jadi seorang ibu juga harus paham tentang gejala penyakit mulai dari fisik maupun psikologis pada anak. Tidak hanya itu, ibu juga harus tau tindakkan pertama untuk menghadapi gelaja-gejala pernyakit tersebut.

Cobalah tengok lingkungan disekitar kita. Masih banyak juga ternyata ibu-ibu yang belum paham tentang hakikatnya.

Contoh kecilnya saja, ketika saya pulang kampung, masih saja saya sering mendapati orang tua yang menyengaja berbicara pada anak dengan dicedel-cadelkan. Misal, kata “lari” dicadelkan menjadi “lali”, “bisa” menjadi “bica” dan lain sebagainya. Mungkin ketika si anak masih kecil dan berbicara seperti itu akan terlihat imut dan menggemaskan. Tapi tunggulah besar, jika kebiasaan itu berlajut. Apa yang terjadi?.

Mendidik anak juga tidak bisa main-main dan bukan perkara mudah.

Lihat saja disekitar kita, berapa ibu yang kewalahan menghadapi anaknya?. Berapa ibu yang tidak bisa mengendalikan anaknya?.

Sehingga akan wajar terdengar bila ada ibu yang mengeluh anaknya tidak mau nurut, ada yang ngeluh anaknya nakal dan ga sopan, ada yang ngeluh anaknya pemalas dan lain sebagainya.

Bisa jadi, perilaku tidak baik seperti itu karena pengetahuan ibu yang kurang. Barangkali ibu tidak tau apa yang diinginkan anak, ibu tidak paham cara yang tepat untuk mengajari anak, dan ibu belum membiasakan kebiasaan baik pada anak.

Seorang ibu juga harus berpendidikkan. Atau minimal paham tentang sejarah. Agar dapat menceritakan sejarah-sejarah orang hebat zaman nabi, orang-orang hebat/penemu dunia.

Lihatlah saudaraiku, pekerjaan sebagai ibu itu sungguh berat. Banyak yang harus dipersiapkan.

Dan cobalah ingat, sudah seberapajauhkah kita memahami tugas wajib kita?. Sudah seberapabanyakkah persiapan yang kita lakukan untuk mengerjakan tugas wajib tersebut?.

Jadi mengapa kita harus berlomba-lomba dengan lelaki dalam hal mencari harta dan tahta?. Biarlah, berikan itu pada lelaki. Kita cukup sekedarnya saja.

Saya tidak melarang perempuan sekolah yang tinggi. Bahkan jika ingin kuliah sampai S3 pun silahkan jika keadaan memungkinkan. Hanya saja, jangan mengedepankan tugas sunnah dan mengesampingkan tugas wajib kita.

Jadi yuk, belajar sama-sama ^ ^.

Makna Sekolah dan Ibu Sebagai Pendidik


Sekolah.

Sekolah itu kalau menurut saya luas sekali maknanya. Ketika lingkungan hidup kita memberikan pelajaran berharga, misalnya “ketika kamu bertindak menyebalkan, orang-orang akan menjauhimu”, atau “kalo kamu suka bohong, nanti teman-teman mu ga percaya kamu lagi”, nah, itu menurut saya juga sekolah. Sekolah moral. hehe

Tapi terkadang kita sering menyempit-nyempitkan makna tersebut.

Sekolah itu sendiri identik dengan seragam, topi, dasi, dan tidak lupa seterfikat kelulusan. Dimana proses sekolah selama 6 tahun di SD hanya dinilai 3-5 hari ujian. Yang setiap kali ujiannya hanya menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam. Miris.

Pemerintah Indonesia sendiri baru-baru ini sedang melirik-lirik UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional wajib belajar 9 tahun yang rencananya akan diubah menjadi wajib belajar 12 tahun. Artinya, nantinya, berdasarkan UU ini, semua anak di Indonesia wajib mengenyam pendidikan minimal sampai tingkat SMA.

Hal ini dipandang perlu oleh pemerintah untuk menaikkan mutu/SDM Indonesia agar sesuai dengan kebutuhan zamanyang semakin modern ini.

Saya rasa itu benar dan penting untuk dilakukan. :’)

Hanya saja, saya merasa agak sedikit kurang sreg dengan pendidikan yang selama ini diajarkan oleh sekolah/kampus saya.

Beberapa guru/dosen saya biasanya mengajarkan saya bagaimana caranya menjadi pesuruh dan pekerja yang baik diperusahaan atau instansi pemerintahan. Terkadang setiap kali sedang belajar dikelas, ada beberapa kalimat sisipan seperti, “Nanti, di dunia kerja kalian akan butuh ini”, atau “Biasanya perusahaan-perusahaan akan mencari pegawai yang seperti ini”, dan blaa.. blaa.. blaa..

Jarang sekali kami mendapatkan motivasi untuk berdiri dikaki sendiri. Atau sekedar kata penyemangat seperti, “Nanti kalian boleh bekerja jadi orang kantoran, kerja diperusahaan gede. Tapi jangan lama-lama ya.. Maksimal 3 tahun aja. Habis itu, cobalah untuk berdiri dikaki sendiri. Ikutilah caranya baginda Rasulullah dalam bekerja..“.

Ternyata, awalnya orang yang amat dimuliakan oleh Allah SWT pun pernah menjadi pekerja. Beliau bekerja untuk Ibundha Khadijah yang kemudian menjadi istrinya. Teman-teman juga pasti udah taukan kalo Siti khadijah melirik Rasulullah awalnya karena kejujuran dan keuletanya dalam bekerja. Nah, kita wajib contoh yang itu tu ketika bekerja. ^ ^. (Bukan karena saking mau kayak nabinya itu jadi malah ngegaet istri si bigbos ya. hhe)

Contoh lainnya, saya juga belum diajarkan bagaimana caranya menjadi perempuan yang baik untuk suami nantinya. Atau menjadi ibu yang baik untuk anak-anak. Yang dapat merawat dan mendidik anak dengan baik (menurut skala islam). dll.

Ternyata masih banyak sekali yang belum saya dapatkan dari pendidikan sekolah formal. Sangat banyak.

Barangkali itulah sebab mengapa islam sangat memuliakan pekerjaan sebagai seorang ibu. Ibu adalah guru pertama untuk anak-anaknya. Ibu seharunya menjadi madrasah sekaligus pendakwah bagi anak-anaknya.

Cobalah tengok negara modern nan pesat dalam perkembangan teknologinya. Jepang. Ternyata, negara tersebut mewajibkan wanita yang mempunyai anak untuk berhenti bekerja. Ia baru boleh bekerja kembali ketika si anak sudah dewasa. Jadi, perempuan jepang sekolah tinggi-tinggi sampai S2 pun sebagai bekal mendidik anak-anaknya kelak. SubhanaAllah. Bagaimana mungkin negara yang minoritas islam tersebut malah mengamalkan ajaran islam?. Dan lihatlah hasilnya sekarang. Orang-orang jepang terkenal akan kejujuran dan keuletannya dalam bekerja. :’)

Teman kita bandel? Tahan sejenak. Cobalah tengok bagaimana didikan orang tuanya, terutama si ibu.

Sebagai contoh. Di lingkungan saya ada yang suka pake rok mini dan baju you can see, setelah saya amat-amati, ternyata sewaktu ia kecil ibunya suka memakaikanya baju yang seperti itu. Ya wajar kalo kemudian ketika dewasa ia demen pake baju begituan. Memang sih ketika kecil perempuan belum memiliki aurat dan anak kecil yang pake baju mini-mini terkesan imut dan menggemaskan. Lah kalo sudah dewasa??.

Di lingkungan saya juga ada yang suka pake baju serba mini-mini dan kencan dengan banyak lelaki. Dan setelah mengamati cerita-ceritanya, ternyata si ibunya dulu juga seperti itu. Teman-teman pasti pernah dengar kalo anak-anak itu seorang peniru yang baik kan? :D. Nah, terjawablah sudah mengapa ia kemudian seperti itu. hehe

Kalo menurut saya pribadi, tanggung jawab seorang wanita untuk pertama kalinya adalah ketika ia menjadi seorang ibu. Sebab, dari kita (baca : perempuan) lahir sampai kemudian menikah, kita tidak bertanggungjawab untuk hidup siapapun. Beda dengan laki-laki. Ketika laki-laki telah menjadi suami, maka ia bertanggungjawab pada istri. Ketika menjadi ayah, maka bertanggungjawab pada istri dan anak. Ketika masih muda pun biasanya laki-laki sudah diajarkan untuk bertanggungjawab pada keluarga, minimal menjaga ibu dan adik/saudaranya. 😀

Tapi, sayangnya lagi ni ya. Perempuan zaman sekarang (termasuk saya), demen nya lomba-lombaan sama lelaki. Alasannya sih, “Masak cowo aja yang boleh kerja dan berkarier. Kita juga mau jadi wanita karier. Biar ga disemena-menain cowo“. Lalu timbullah kata emansipasi wanita. hehe

Akhirnya, dengan alasan emansipasi wanita itulah kita bisa bekerja dengan bebas. Nanti sedikit-sedikit emansipasi, sedikit-sedikit ngomongnya diskriminasi. Diskriminasi kok sedikit-sedikit.

Misalnya ada seorang wanita yang bisa nyetir mobil truck, tapi ga dibolehin jadi sopir truck, nah nanti para aktivis emansipasi wanita pada demo deh tuh… Bilang kalo wanita juga bisa kerja jadi sopir. Jujur aja, miris betul kalo ini sampai terjadi.

Memang sih, barangkali itu karena kebutuhan keluarga. Karena gaji suami ga mencukupi.

Tapi, menurut saya lagi ni ya, seandainya dulu si ibu lelaki sudah menerapkan pendidikan dini tentang hakikat seorang wanita dan pekerjaannya ke anak laki-lakinya. Maka ga akan deh ada kejadian begini. Suaminya seharunya ga mengizinkan istrinya bekerja sekasar itu. Misalnya dengan ngasih pengertian ke istrinya,

“Dek, kita syukuri aja dulu apa yang udah Allah kasih ke kita ya. Adek didik aja anak-anak kita dirumah. Ajarin ngaji, menghafal dan memahami Al-Qur’an, tentang makna hidup, tentang kebersyukuran, kejujuran, keuletan. Masalah ekonomi keluarga, biar mas yang urus”.

*Uhuk*. Kalo dibicarain dengan lemah lembut plus senyuman yang manis lagi meneduhkan, istrinya juga “klepek-klepek” deh jadinya. hehe

Istrinya juga kalo sedari kecil sudah dikasih contoh yang baik dari ibunya (misal cara ibu merawat/mendidiknya, tentang bagaimana sebaiknya istri mengikuti kata suami selama itu baik, tentang bagaimana kemudian seorang istri sebaiknya menjaga harta dan rumah serta martabat suami) juga dengan sendirinya akan mudah memahami maksud perkataan suaminya tersebut.

Semua yang saya jelaskan diatas seperti lingkaran. Kita hanya berputar-putar disana. Pada pendidikan seorang ibu. Bukan pendidikan sekolah. :’). Pendidikan sekolah barangkali hanya berguna untuk dunia kerja. Tapi pendidikan yang diberikan oleh seorang ibu tidak hanya berguna untuk dunia kerja melainkan juga untuk kehidupan yang lebih luas seperti kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat. ^ ^

Jadi, alangkah baiknya, kita -si perempuan-perempuan- ini, berlomba-lomba menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kelak, bukan berlomba-lomba menjadi wanita karier yang pergi pagi pulang malam. 😀

Yuk deh, kita sama-sama memperbaiki mindset kita. :’). Sadari siapa kita, lalu temukan jalan menuju keridhoan-Nya. ^ ^